Aku selalu percaya ada dua hal di dunia yang selalu menjadi misteri bagi manusia…pertama adalah kematian.dimana kita akan mati,bagaimana caranya kita mati dan seperti apa keadaannya saat kita akan sakaratul maut….semua tidak ada yang bisa mengetahui kecuali Allah Swt…dan yang kedua adalah jodoh….pasangan hidup kita telah tertulis secara jelas dan hanya Allah Swt yang dapat mengetahuinya…kita hanya manusia yang rapuh dan lemah…terkadang kita akan terpeleset oleh perasaan cinta yang datang di waktu yang salah ( begitu aku menyebutnya,bila cinta itu datang sebelum kita menikah…)
Ada beberapa yang langsung mengekspresikan cinta mereka dengan berpacaran padahal perilaku pacaran yang telah banyak dijelaskan di forum diskusi kita yang berjudul jomblo dan pacaran oleh Askana Sakhi, banyak mudharat yang kita dapatkan dari perilaku itu…memanglah di Alquran tidak pernah secara langsung menjelaskan perilaku pacaran itu haram…tetapi kalo kita mau liat dan memperhatikan secara lebih dalam kegiatan apa saja yang ada dalam perilaku pacaran itu semua telah dijelaskan di Alquran adalah perbuatan yang tidak dibolehkan.seperti halnya kegiatan berdua-duaan di tempat yang sepi,saling bermesraan di tempat2 tertentu….dan yang sedikit demi sedikit dan secara amat lembut serta perlahan – lahan setan menguasai pikiran pasangan itu hingga mereka melakukan kegiatan zina…naudzubillah….itulah kenapa sebaiknya kita tidak pacaran…dan jomblo akan menjadi suatu pilihan terbijak….
namun, bagaimana bila rasa cinta itu ternyata mengusik hari-harimu di waktu yang salah???? Hal itu menjadi pertanyaan besar dan sulit ku mencari jawabannya….tetapi aku punya cerita nyata dari seorang gadis kecil yang mencoba mencari arti dari sebuah kehidupan…
“dia gadis yang hatinya rapuh,lemah dan mudah terjangkit virus cinta…suatu saat dia bergulit dalam satu bidang organisasi dengan seorang kaum adam…sesosok kaum adam itu secara perlahan-lahan menghipnotis perasaan sang gadis kecil.hingga hati sang gadis kecil telah terjangkit virus merah jambu stadium empat…alias penyakitnya parah banget,
setiap hari wajahnya si kaum adam itu terbayang-bayang di benak si gadis kecil itu,dan si gadis kecil tidak punya daya dan tenaga untuk menghindarinya…..
namun, suatu hari gadis kecil itu tersadarkan bahwa rasa itu seharusnya tidak boleh ada di dalam hatinya…dia lalu berusaha keras menghilangkannya dan menyembuhkan hatinya dari virus itu..berbagai cara si gadis lakukan untuk menghilangkan rasa itu dari hatinya…dari mengikuti setiap kajian yang membahas tentang cinta, membaca buku2 bagaimana mengelola cinta hingga rak bukunya penuh dengan buku bertemakan cinta….namun, tetap saja penyakit itu menjakit hatinya…
sampai akhirnya dia mencoba mempasrahkan semua pada sang pemilik cinta yaitu Allah Swt….dengan setiap hari menyempatkan waktu untuk bersujud mencari jawaban atas rasa itu, doa istigharah yang selalu terlantun dengan indah di setiap malamnya…dan tetesan air mata yang mengalir dengan deras membasahi mukena putihnya…dengan lantunan doa:
“Ya Allah…ingin ku jadikan sabar sebagai langkahku,
ku jadikan iklhas sebagai penentu pilihanku,
ku jadikan senyum untuk menyapa …..
agar,dengan sabar ku lalui rintangan hidupku,
dengan iklhas ku terima semua kenyataan,
dengan senyum ku jadikan hari seindah – indahnya….
Ya Allah,
Walau berat langkahku, ku tetap teguhkan sabar ini…
Walau sulit menerimanya, ku tetap iklahskan semua….
Walau perih hati ini, ku tetap sunggingkan senyum terindahku….
Kuberharap hatiku dapat tetap dengan sabar,iklhas mernerima segalanya…”
Tak lama setelah itu segala doa terjawab…walaupun jawabannya tak seperti yang dihaarpkan,namun jawaban itu sangat berarti dalam kehidupan si gadis kecil…ternyata si kaum adam di tempat asalnya telah memilih seorang gadis untuk menjadi pendamping di kehidupannya….rasa sakit, perih dan sedih mengoreskan hati si gadis kecil saat mengetahui kenyataan itu,namun dengan sunggingkan senyuman dia berkata dalam hati:
“ Ya Allah…terima kasih atas segala jawaban ini…jika ini yang terbaik untukku…aku iklhaskan semuanya….”
Setelah itu gadis kecil menjalani hari-harinya dengan sunggingkan senyum terindah…virus merah jambu itu tak lagi menganggu kehidupannya, sehingga dia bisa menjalani hari-harinya dengan lebih ringan…..tak ada lagi tetesan air mata karena virus merah jambu di mukena putihnya,tetapi tergantikan dengan tetesan air mata karena ucapan syukur dan mengharapkan cinta pada sang pemilik cinta….
Satu hal yang bisa menjadi jawaban dari bagaimana bila perasaan cinta muncul di waktu yang salah adalah ikhlas….
Dengan ikhlaskan semua jawaban pada Allah swt....hati akan menjadi lebih tenang dalam memutuskan dan melihat cinta tersebut….karena Allah swt lebih mengenal kita,lebih dari kita mengenal diri kita sendiri….
Read More >>
Tampilkan postingan dengan label Simponi Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Simponi Hati. Tampilkan semua postingan
Yuk, Kita Khitbah!
Duh, judulnya kok provokatif banget ya? Hmm… nggak juga kok? Lagian kenapa musti ditutup-tutupi, iya nggak? Masak kita kalah sama yang aktivis pacaran. Mereka sampe nekat over acting di depan banyak orang. Nggak tanggung-tanggung, mereka cuek aja bermesraan. Nggak peduli lagi dengan orang di sekitarnya. Bahkan mungkin ada rasa puas udah bisa ngasih ‘hiburan’ ke orang lain. Hih, dasar!
Lihat aja di angkot, di pasar, apalagi di mal, ada aja pasangan ilegal ini yang nekat melakukan adegan yang bisa bikin orang yang ngeliat merasa muak dan sebel. Aksi nekat dan berani malu memang. Hubungan gelap dan liar!
Pacaran dikatakan hubungan gelap? Ya, sebab, ikatan antara laki-laki dan wanita yang sah dalam pandangan Islam adalah dengan khitbah dan nikah. Nggak ada selain itu. Dengan demikian yang boleh dibilang sebagai hubungan yang ‘terang’ itu adalah khitbah dan nikah itu. Namun demikian, jangan dianggap bahwa khitbah sama dengan pacaran islami, lho. Itu salah besar sodara-sodara.
Sobat muda muslim, khitbah dalam bahasa Indonesia artinya meminang. Udah pernah kenal istilah ini? Jangan sampe kuper ya? Apalagi selama ini, kayaknya banyak juga dari kita yang nggak kenal istilah-istilah islami. Yang kita hapal betul dan udah terformat dalam otak dan pikiran kita adalah istilah dan aturan main yang bukan berasal dari Islam. Jadinya ya pantes aja nggak ngeh, bahkan mungkin nggak kenal sama sekali. Memprihatinkan memang.
Anehnya, kita lebih kenal dan paham istilah pacaran. Akibatnya, sebagian besar dari kita mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Maklum, perbuatan itu kan selalu berbanding lurus dengan pemahaman. Itu mutlak lho, nggak bisa ditawar-tawar lagi.
Ujungnya, ada juga yang kemudian menganggap bahwa pacaran adalah semacam aktivitas ‘wajib’ bagi orang dewasa, ketika ingin memilih or mencari pasangan hidup. Itu sebabnya, jangan heran pula kalo ada ortu yang begitu resah dan gelisah ketika menyaksikan anak gadisnya masih menyendiri. Pikirannya selalu yang serem-serem. Ujungnya, untuk mengusir perasaan itu, nggak sedikit ortu yang tega ngomporin anaknya supaya nyari pasangan. Dalam beberapa kasus malah lebih mengerikan, ada ortu yang ngasih pernyataan, bahwa siapa pun deh pacar anak gadisnya yang penting laki-laki. Wacksss? Nah lho, apa nggak salah tuh? Tentu salah dong dalam pandangan Islam. Kok nggak disuruh nikah? Kok malah dibiarin pacaran dulu? Waduh. Bahaya Mas! Dan, tentunya ada juga di antara mereka yang menjalani aktivitas itu karena memang nggak tahu hukumnya, alias kagak nyaho, jadinya ya kayak begini ini.
Apa yang kudu dilakukan sebelum khitbah?
Ini ceritanya kalo kita udah serius mau nikah lho. Jadi, untuk temen-temen yang masih SMP or SMU, kayaknya jadikan aja sebagai wawasan ya? Untuk sementara kok. Kali aja nyangkut-nyangkut dikit deh. Biar nggak buta banget. Emang sih kagak enak ati ye, cuma dapet teorinya dong. Praktiknya belum. Tapi nggak apa-apa kan? Kuat nahan aja dulu ya?
Buat para cowok, sebelum kita ‘nekat’ mengkhitbah pasangan kita. Ada beberapa kriteria yang kudu jadi patokan kita. Nggak asal aja ya? Pesan kita neh, “Jangan keburu-buru. Gunung tak akan lari dikejar” Kalem aja Mas!
Pertama, carilah wanita yang sholihah. Abdullah bin Amr berkata bahwa Rasulullah saw suatu saat bersabda:“Dunia ini sesungguhnya merupakan kesenangan, dan kesenangan dunia yang paling baik adalah seorang wanita yang shalih” (HR Ibnu Majah) Nah, itu pesan nabi kita sobat. Jadi jangan sekali-kali nyari yang bakalan bikin repot buat kita-kita. Pokoke, jangan ambil risiko dengan memilih gajah, alias gadis jahiliyah. Masak tega-teganya sih kamu milihinhj buat anak-anak kamu nanti ibunya yang amburadul begitu rupa. Dan tentunya biar peluang kamu gede untuk dapetin gadis yang sholihah, maka kamunya juga kudu jaim (jaga imej). Kamu musti taat dan sholeh juga dong. Malu atuh, seorang muslim tapi kelakuannya nyontek abis kaum lain. Mana ada cewek baik-baik mau sama kamu yang begitu. Jadi, dua-duanya emang kudu oke.
Kedua, kalo kamu pengen nyari calon istri, sebelum meminta ke ortunya (mengkhitbah), pastikan calon kamu itu oke punya dong. Utamanya dalam soal agamanya. Abu Hurairah menceritakan bahwa Rasulullah juga pernah bersabda:“Wanita itu dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Tetapi hendaklah kamu memilih wanita yang beragama. Camkanlah hal ini olehmu.” (HR. Jama’ah kecuali Tirmizi) Betul. Itu bakalan bisa memberikan yang terbaik buat kita. Memang sih, kita kepengen banget dapet pasangan yang wajahnya enak dan sedap dipandang mata. Yang laki barangkali mengkhayal, kali aja dapet istri yang wajahnya kembaran banget ama Shakira or Jessica Alba. Aduh, gimana senengnya kali yee. Begitu juga anak cewek, berharap banget dapet gandengan itu cowok yang mirip-mirip Vaness Wu or Vic Zhou. Wah, bisa-bisa ‘kesetrum’ tuh.
Tapi tentunya bakalan percuma aja kalo punya gandengan yang tampilannya oke tapi bikin berabe. Karena doi nggak taat sama Allah. Kalo dalam istilah komputer, jangan sampe kita punya pasangan tipe Windows, tampilan luar sih boleh, tapi dalemnya penuh bugs. Wacksss?
Ini berlaku buat kedua belah pihak dong. Yang laki kudu taat, begitu pun yang wanita. Jangan sampe yang wanita nyablaknya minta maaf (bosen pake ‘ampun’ aja). Gaswat itu. Kalo dalam istilah komputer, cewek model gitu katanya tipe monitor; genit, senangnya diperhatiin, suka pamer, padahal belum tentu yang dipamerin bagus.
Oke, paling nggak inilah panduan awalnya sebelum kamu mengkhitbah wanita pujaan hatimu. Jadi jangan asal aja. Begitu juga kamu yang wanita atau walinya, jangan cuma seneng ngelihat cowok atau calon menantunya dari tampilan fisiknya aja, padahal pikirannya amburadul. Intinya carilah yang beriman kepada Allah Swt. Abu Nu’im mentakhrij di dalam al-Hilyah, 1/215, dari Tsabit al-Banaty, dia berkata: “Yazid bin Mu’awiyah menyampaikan lamaran kepada Abu Darda’ untuk menikahi putrinya. Namun Abu Darda’ menolak lamarannya itu. Seseorang yang biasa bersama Yazid berkata, ‘Semoga Allah memberikan kemaslahatan kepadamu. Apakah engkau berkenan jika aku yang menikahi putri Abu Darda’?” Yazid menjawab, “Celaka engkau. Itu adalah sesuatu yang amat mengherankan.” Temannya berkata, “Perkenankan aku untuk menikahinya, semoga Allah memberikan kemaslahatan kepadamu.” Terserahlah,” jawab Yazid. Ketika Abu Darda’ benar-benar menikahkan putrinya dengan temannya Yazid itu, maka tersiar komentar yang miring, bahwa Yazid menyampaikan lamaran kepada Abu Darda’, tapi lamarannya ditolak. Tapi ketika ada orang lain dari golongan orang-orang yang lemah, justru Abu Darda’ menerima dan menikahkannya. Lalu Abu Darda’ berkata,”Aku melihat seperti apa kurasakan di dalam hatiku. Jika ada dua pelamar, maka aku memeriksa rumah-rumah yang dilihatnya bisa menjadi tumpuan agamanya.”
Khitbah saja!
Lho, iya, ngapain dilama-lamain, kalo emang kamu udah merasa cocok dan yakin dengan pilihanmu dengan kriteria seperti disampaikan di atas. Nggak usah ragu Mas, silakan saja. Kalo masih ragu, coba lakukan sholat istikharah. Siapa tahu tambah ragu, eh, sori, bisa bikin yakin hati kamu. Terus kalo udah siap segalanya? Pokoknya, bagi yang udah siap nikah neh. Jadi memang kalo belum siap or berani untuk nikah, mendingan jangan mengkhitbah akhwat. Itu bakalan bikin runyam. Oya, gimana sih cara kita melakukan khitbah sama gadis idaman kita?
Nggak susah. Kalo kamu udah siap mental, insya Allah kendala yang lain bisa diatasi. Awalnya, pas kamu dapet ‘kembang’ yang bisa membikin hatimu kesengsem, dan itu kemudian terus membetot-betot hatimu untuk selalu tentrem kalo mengingat namanya, apalagi sampe ketemu segala. Nah, kalo kamu berani, bilang aja sendiri sama beliau kalo kamu tuh tertarik. Aduh, ‘radikal’ amat?
Ah, nggak juga tuh. Mudahnya begini. Jurus pertama, tanya dulu, apakah doi udah ada yang punya atau belum. Soalnya jangan sampe kita meminang pinangan orang lain. Bisa gaswat. Namanya juga orang. Punya hati, dan sangat mungkin sakit hati. Kalo sampe begitu, udah mending kalo cuma digebukin pake omongan, lha kalo sampe digebukin pake pentungan besi? Nggak mustahil kalo urusannya bisa langsung ngontak tukang gali kubur kan? J Adalah Abu Hurairah yang berkata: “Rasulullah saw. bersabda: ‘Seorang laki-laki tidak boleh meminang perempuan yang telah dipinang oleh saudaranya." (HR. Ibnu Majah)
Kalo ternyata gadis itu masih ‘sendiri’? Nggak dilarang kalo kamu ngajuin pinangan. Lebih sueneng lagi kalo doi menyambut cinta kita. Aduh enake. Jadi jurus keduanya, langsung datengin ortunya. Minta langsung kepada mereka. Tapi jangan ngeper ya? Jangan sampe pas dateng ke rumahnya, begitu pintu dibuka, yang muncul adalah lelaki setengah baya dengan kumis tebel segede ulet jambu, kamu langsung ngibrit balik lagi. Yee… itu sih kebangetan. Hadapi aja. Nggak usah takut. Kata pepatah; segalak-galaknya macan, nggak bakalan berani makan sendal, eh, anaknya sendiri.
Lagian, itu kan boleh dibilang camer (calon mertua), ngapain kudu takut segala. Iya nggak? Sampaikan saja apa maksud kedatangan kamu ke mereka. Bahwa kamu berminat kepada putri mereka, dan serius ingin membina rumah tangga dengannya. Kalo ditolak? Ya, jangan sampe dukun bertindak dong. Itu namanya cinta terpadu, alias terpaksa pakai dukun. Nggak boleh. Kalem aja. Sabar. Kembang tak hanya setaman. Ceileee.. menghibur diri, padahal mah hati serasa kompor meledug! Jadi intinya, kamu mengkhitbah akhwat pujaan hatimu itu langsung ke ortunya. Tentunya setelah oke dengan doi dong. Kenapa kudu menyampaikan ke ortunya? Lho, itu kan walinya. Sebab seorang gadis itu dalam pengawasan walinya. Karena walinya (ayah, dan saudara dari ayahnya), bertanggung jawab penuh. Terus selain meminta kepada ortunya, dan jika ortu udah oke, boleh nggak melihat calon istri kita? Misalnya, untuk memastikan apakah telinganya masih utuh ada dua-duanya ataukah tidak. Karena kan selama ini nggak kelihatan ditutupi kerudung terus. Intinya, jangan sampe kita beli karung dalam kucing, eh, beli kucing dalam karung. Yup, boleh melihat kok. Tapi bukan seluruh tubuhnya. Bisa gawat!
Anas bin Malik berkata: “Mughirah bin Syu’bah berkeinginan untuk menikahi seorang perempuan, lalu Rasulullah memberi nasihat kepadanya: “Pergilah untuk melihat perempuan itu, karena dengan melihat itu akan memberikan jalan untuk lebih dapat membina kerukunan antara kamu berdua” Lalu ia pun melakukannya, kemudian menikahi perempuan itu, dan ia menceritakan tentang kerukunan dirinya dengan perempuan itu. (HR. Ibnu Majah)
Sobat muda muslim, kayaknya kalo dibahas terus bakalan asyik juga ya? Tapi sayang, buletin ini nggak cukup menampung semua persoalan itu. Jadi intinya, bagi kamu yang udah siap moril, materiil, maupun ‘onderdil’, segera saja menikah. Mau khitbah dulu juga boleh. Tapi jangan lama-lama. Dan inget, kalo pun udah khitbah, kamu kudu tetep menjaga batasan dalam bergaul. Kan, tetep aja belum sah jadi suami-istri. Makanya, cepetan nikah aja! Dan buat kamu yang masih SMP or SMU, jadikan aja ini sebagai wawasan awal ya? Biar ngeh juga. Jadi, hindari pacaran dan fokus belajar. Untuk yang udah mapan, langsung nikah sajalah. Ya, kalo nikah itu halal, buat apa pacaran? Iya nggak?
Soal Rizki? Dari Allah. Firman Allah Swt.: “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antaramu, dan orang-orang yang layak dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Alah Maha Luas lagi Maha Mengetahui. (TQS an-Nûr [24]: 32)
Rasulullah saw. bersabda: “Ada tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah Swt: Seorang Mujahid di jalan Allah, Mukatab (budak yang membeli dirinya dari tuannya) yang mau melunasi pembayarannya, dan seorang yang kawin karena mau menjauhkan diri dari yang haram” (HR Tirmidzi dari Abu Hurairah)
Jadi begitu sobat. Paham kan?
Read More >>
Lihat aja di angkot, di pasar, apalagi di mal, ada aja pasangan ilegal ini yang nekat melakukan adegan yang bisa bikin orang yang ngeliat merasa muak dan sebel. Aksi nekat dan berani malu memang. Hubungan gelap dan liar!
Pacaran dikatakan hubungan gelap? Ya, sebab, ikatan antara laki-laki dan wanita yang sah dalam pandangan Islam adalah dengan khitbah dan nikah. Nggak ada selain itu. Dengan demikian yang boleh dibilang sebagai hubungan yang ‘terang’ itu adalah khitbah dan nikah itu. Namun demikian, jangan dianggap bahwa khitbah sama dengan pacaran islami, lho. Itu salah besar sodara-sodara.
Sobat muda muslim, khitbah dalam bahasa Indonesia artinya meminang. Udah pernah kenal istilah ini? Jangan sampe kuper ya? Apalagi selama ini, kayaknya banyak juga dari kita yang nggak kenal istilah-istilah islami. Yang kita hapal betul dan udah terformat dalam otak dan pikiran kita adalah istilah dan aturan main yang bukan berasal dari Islam. Jadinya ya pantes aja nggak ngeh, bahkan mungkin nggak kenal sama sekali. Memprihatinkan memang.
Anehnya, kita lebih kenal dan paham istilah pacaran. Akibatnya, sebagian besar dari kita mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Maklum, perbuatan itu kan selalu berbanding lurus dengan pemahaman. Itu mutlak lho, nggak bisa ditawar-tawar lagi.
Ujungnya, ada juga yang kemudian menganggap bahwa pacaran adalah semacam aktivitas ‘wajib’ bagi orang dewasa, ketika ingin memilih or mencari pasangan hidup. Itu sebabnya, jangan heran pula kalo ada ortu yang begitu resah dan gelisah ketika menyaksikan anak gadisnya masih menyendiri. Pikirannya selalu yang serem-serem. Ujungnya, untuk mengusir perasaan itu, nggak sedikit ortu yang tega ngomporin anaknya supaya nyari pasangan. Dalam beberapa kasus malah lebih mengerikan, ada ortu yang ngasih pernyataan, bahwa siapa pun deh pacar anak gadisnya yang penting laki-laki. Wacksss? Nah lho, apa nggak salah tuh? Tentu salah dong dalam pandangan Islam. Kok nggak disuruh nikah? Kok malah dibiarin pacaran dulu? Waduh. Bahaya Mas! Dan, tentunya ada juga di antara mereka yang menjalani aktivitas itu karena memang nggak tahu hukumnya, alias kagak nyaho, jadinya ya kayak begini ini.
Apa yang kudu dilakukan sebelum khitbah?
Ini ceritanya kalo kita udah serius mau nikah lho. Jadi, untuk temen-temen yang masih SMP or SMU, kayaknya jadikan aja sebagai wawasan ya? Untuk sementara kok. Kali aja nyangkut-nyangkut dikit deh. Biar nggak buta banget. Emang sih kagak enak ati ye, cuma dapet teorinya dong. Praktiknya belum. Tapi nggak apa-apa kan? Kuat nahan aja dulu ya?
Buat para cowok, sebelum kita ‘nekat’ mengkhitbah pasangan kita. Ada beberapa kriteria yang kudu jadi patokan kita. Nggak asal aja ya? Pesan kita neh, “Jangan keburu-buru. Gunung tak akan lari dikejar” Kalem aja Mas!
Pertama, carilah wanita yang sholihah. Abdullah bin Amr berkata bahwa Rasulullah saw suatu saat bersabda:“Dunia ini sesungguhnya merupakan kesenangan, dan kesenangan dunia yang paling baik adalah seorang wanita yang shalih” (HR Ibnu Majah) Nah, itu pesan nabi kita sobat. Jadi jangan sekali-kali nyari yang bakalan bikin repot buat kita-kita. Pokoke, jangan ambil risiko dengan memilih gajah, alias gadis jahiliyah. Masak tega-teganya sih kamu milihinhj buat anak-anak kamu nanti ibunya yang amburadul begitu rupa. Dan tentunya biar peluang kamu gede untuk dapetin gadis yang sholihah, maka kamunya juga kudu jaim (jaga imej). Kamu musti taat dan sholeh juga dong. Malu atuh, seorang muslim tapi kelakuannya nyontek abis kaum lain. Mana ada cewek baik-baik mau sama kamu yang begitu. Jadi, dua-duanya emang kudu oke.
Kedua, kalo kamu pengen nyari calon istri, sebelum meminta ke ortunya (mengkhitbah), pastikan calon kamu itu oke punya dong. Utamanya dalam soal agamanya. Abu Hurairah menceritakan bahwa Rasulullah juga pernah bersabda:“Wanita itu dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Tetapi hendaklah kamu memilih wanita yang beragama. Camkanlah hal ini olehmu.” (HR. Jama’ah kecuali Tirmizi) Betul. Itu bakalan bisa memberikan yang terbaik buat kita. Memang sih, kita kepengen banget dapet pasangan yang wajahnya enak dan sedap dipandang mata. Yang laki barangkali mengkhayal, kali aja dapet istri yang wajahnya kembaran banget ama Shakira or Jessica Alba. Aduh, gimana senengnya kali yee. Begitu juga anak cewek, berharap banget dapet gandengan itu cowok yang mirip-mirip Vaness Wu or Vic Zhou. Wah, bisa-bisa ‘kesetrum’ tuh.
Tapi tentunya bakalan percuma aja kalo punya gandengan yang tampilannya oke tapi bikin berabe. Karena doi nggak taat sama Allah. Kalo dalam istilah komputer, jangan sampe kita punya pasangan tipe Windows, tampilan luar sih boleh, tapi dalemnya penuh bugs. Wacksss?
Ini berlaku buat kedua belah pihak dong. Yang laki kudu taat, begitu pun yang wanita. Jangan sampe yang wanita nyablaknya minta maaf (bosen pake ‘ampun’ aja). Gaswat itu. Kalo dalam istilah komputer, cewek model gitu katanya tipe monitor; genit, senangnya diperhatiin, suka pamer, padahal belum tentu yang dipamerin bagus.
Oke, paling nggak inilah panduan awalnya sebelum kamu mengkhitbah wanita pujaan hatimu. Jadi jangan asal aja. Begitu juga kamu yang wanita atau walinya, jangan cuma seneng ngelihat cowok atau calon menantunya dari tampilan fisiknya aja, padahal pikirannya amburadul. Intinya carilah yang beriman kepada Allah Swt. Abu Nu’im mentakhrij di dalam al-Hilyah, 1/215, dari Tsabit al-Banaty, dia berkata: “Yazid bin Mu’awiyah menyampaikan lamaran kepada Abu Darda’ untuk menikahi putrinya. Namun Abu Darda’ menolak lamarannya itu. Seseorang yang biasa bersama Yazid berkata, ‘Semoga Allah memberikan kemaslahatan kepadamu. Apakah engkau berkenan jika aku yang menikahi putri Abu Darda’?” Yazid menjawab, “Celaka engkau. Itu adalah sesuatu yang amat mengherankan.” Temannya berkata, “Perkenankan aku untuk menikahinya, semoga Allah memberikan kemaslahatan kepadamu.” Terserahlah,” jawab Yazid. Ketika Abu Darda’ benar-benar menikahkan putrinya dengan temannya Yazid itu, maka tersiar komentar yang miring, bahwa Yazid menyampaikan lamaran kepada Abu Darda’, tapi lamarannya ditolak. Tapi ketika ada orang lain dari golongan orang-orang yang lemah, justru Abu Darda’ menerima dan menikahkannya. Lalu Abu Darda’ berkata,”Aku melihat seperti apa kurasakan di dalam hatiku. Jika ada dua pelamar, maka aku memeriksa rumah-rumah yang dilihatnya bisa menjadi tumpuan agamanya.”
Khitbah saja!
Lho, iya, ngapain dilama-lamain, kalo emang kamu udah merasa cocok dan yakin dengan pilihanmu dengan kriteria seperti disampaikan di atas. Nggak usah ragu Mas, silakan saja. Kalo masih ragu, coba lakukan sholat istikharah. Siapa tahu tambah ragu, eh, sori, bisa bikin yakin hati kamu. Terus kalo udah siap segalanya? Pokoknya, bagi yang udah siap nikah neh. Jadi memang kalo belum siap or berani untuk nikah, mendingan jangan mengkhitbah akhwat. Itu bakalan bikin runyam. Oya, gimana sih cara kita melakukan khitbah sama gadis idaman kita?
Nggak susah. Kalo kamu udah siap mental, insya Allah kendala yang lain bisa diatasi. Awalnya, pas kamu dapet ‘kembang’ yang bisa membikin hatimu kesengsem, dan itu kemudian terus membetot-betot hatimu untuk selalu tentrem kalo mengingat namanya, apalagi sampe ketemu segala. Nah, kalo kamu berani, bilang aja sendiri sama beliau kalo kamu tuh tertarik. Aduh, ‘radikal’ amat?
Ah, nggak juga tuh. Mudahnya begini. Jurus pertama, tanya dulu, apakah doi udah ada yang punya atau belum. Soalnya jangan sampe kita meminang pinangan orang lain. Bisa gaswat. Namanya juga orang. Punya hati, dan sangat mungkin sakit hati. Kalo sampe begitu, udah mending kalo cuma digebukin pake omongan, lha kalo sampe digebukin pake pentungan besi? Nggak mustahil kalo urusannya bisa langsung ngontak tukang gali kubur kan? J Adalah Abu Hurairah yang berkata: “Rasulullah saw. bersabda: ‘Seorang laki-laki tidak boleh meminang perempuan yang telah dipinang oleh saudaranya." (HR. Ibnu Majah)
Kalo ternyata gadis itu masih ‘sendiri’? Nggak dilarang kalo kamu ngajuin pinangan. Lebih sueneng lagi kalo doi menyambut cinta kita. Aduh enake. Jadi jurus keduanya, langsung datengin ortunya. Minta langsung kepada mereka. Tapi jangan ngeper ya? Jangan sampe pas dateng ke rumahnya, begitu pintu dibuka, yang muncul adalah lelaki setengah baya dengan kumis tebel segede ulet jambu, kamu langsung ngibrit balik lagi. Yee… itu sih kebangetan. Hadapi aja. Nggak usah takut. Kata pepatah; segalak-galaknya macan, nggak bakalan berani makan sendal, eh, anaknya sendiri.
Lagian, itu kan boleh dibilang camer (calon mertua), ngapain kudu takut segala. Iya nggak? Sampaikan saja apa maksud kedatangan kamu ke mereka. Bahwa kamu berminat kepada putri mereka, dan serius ingin membina rumah tangga dengannya. Kalo ditolak? Ya, jangan sampe dukun bertindak dong. Itu namanya cinta terpadu, alias terpaksa pakai dukun. Nggak boleh. Kalem aja. Sabar. Kembang tak hanya setaman. Ceileee.. menghibur diri, padahal mah hati serasa kompor meledug! Jadi intinya, kamu mengkhitbah akhwat pujaan hatimu itu langsung ke ortunya. Tentunya setelah oke dengan doi dong. Kenapa kudu menyampaikan ke ortunya? Lho, itu kan walinya. Sebab seorang gadis itu dalam pengawasan walinya. Karena walinya (ayah, dan saudara dari ayahnya), bertanggung jawab penuh. Terus selain meminta kepada ortunya, dan jika ortu udah oke, boleh nggak melihat calon istri kita? Misalnya, untuk memastikan apakah telinganya masih utuh ada dua-duanya ataukah tidak. Karena kan selama ini nggak kelihatan ditutupi kerudung terus. Intinya, jangan sampe kita beli karung dalam kucing, eh, beli kucing dalam karung. Yup, boleh melihat kok. Tapi bukan seluruh tubuhnya. Bisa gawat!
Anas bin Malik berkata: “Mughirah bin Syu’bah berkeinginan untuk menikahi seorang perempuan, lalu Rasulullah memberi nasihat kepadanya: “Pergilah untuk melihat perempuan itu, karena dengan melihat itu akan memberikan jalan untuk lebih dapat membina kerukunan antara kamu berdua” Lalu ia pun melakukannya, kemudian menikahi perempuan itu, dan ia menceritakan tentang kerukunan dirinya dengan perempuan itu. (HR. Ibnu Majah)
Sobat muda muslim, kayaknya kalo dibahas terus bakalan asyik juga ya? Tapi sayang, buletin ini nggak cukup menampung semua persoalan itu. Jadi intinya, bagi kamu yang udah siap moril, materiil, maupun ‘onderdil’, segera saja menikah. Mau khitbah dulu juga boleh. Tapi jangan lama-lama. Dan inget, kalo pun udah khitbah, kamu kudu tetep menjaga batasan dalam bergaul. Kan, tetep aja belum sah jadi suami-istri. Makanya, cepetan nikah aja! Dan buat kamu yang masih SMP or SMU, jadikan aja ini sebagai wawasan awal ya? Biar ngeh juga. Jadi, hindari pacaran dan fokus belajar. Untuk yang udah mapan, langsung nikah sajalah. Ya, kalo nikah itu halal, buat apa pacaran? Iya nggak?
Soal Rizki? Dari Allah. Firman Allah Swt.: “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antaramu, dan orang-orang yang layak dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Alah Maha Luas lagi Maha Mengetahui. (TQS an-Nûr [24]: 32)
Rasulullah saw. bersabda: “Ada tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah Swt: Seorang Mujahid di jalan Allah, Mukatab (budak yang membeli dirinya dari tuannya) yang mau melunasi pembayarannya, dan seorang yang kawin karena mau menjauhkan diri dari yang haram” (HR Tirmidzi dari Abu Hurairah)
Jadi begitu sobat. Paham kan?
Read More >>
Kalo Kamu Dikhitbah
Dikhitbah? Wow, suka dong. Yup, ini adalah artikel sekuel-nya tentang khitbah. Kalo minggu kemarin kita ngajak yang cowok untuk mengkhitbah, sekarang, biar adil, kita mencoba ngajak anak puteri untuk bersikap bijak seandainya ada anak cowok yang nekat mengkhitbah dirinya. Gimana, setuju kan?
Nah, ngomongin soal khitbah berarti kita sedang bicara tentang cinta. Khususnya tentang sarana untuk menyalurkan rasa cinta ini dengan baik. Memang sih, kalo lihat temen-temen remaja yang lain, kalo di antara mereka saling jatuh cinta, biasanya langsung diwujudkan dengan pacaran. Dan ini kita pikir udah pada tahu semua gimana sih rasanya, or ngelihat orang yang sedang pacaran. Mesra dan ah, nggak usah diterusin deh. Tapi inget lho, pacaran itu kan cara penyaluran rasa cinta yang diharamkan oleh Allah Swt.
khitbah adalah pernyataan seorang lelaki kepada wanita yang disukainya untuk serius menikahinya. Dan ini disampaikan kepada ortunya. Tentu setelah kita udah sama-sama janjian dong. Kalo nggak, bisa gaswat. Jadi khitbah boleh dibilang nandain calon kita. Pokoknya diiket dulu deh, sebelum akhirnya dinikahi.
Nah, kadangkala, anak puteri yang akhirnya kebingungan. Kalo kemarin kita bahas anak cowok yang bimbang dan kurang pede untuk mengkhitbah akhwat, kita kasih support supaya mantap dan berani, sekarang kita coba nemenin anak puteri untuk bersikap bijaksana dalam menghadapi pinangan anak cowok.
Berdasarkan pengalaman neh, paling nggak ada beberapa masalah yang dihadapi anak puteri dalam urusan ini. Misalnya, ketika datang anak cowok yang berani menyatakan keseriusannya untuk menikah dengannya, adakalanya anak puteri suka keder menghadapai ini. Sebab, tak selamanya begitu mendapat pinangan langsung seneng. Kenapa? Bisa jadi kasusnya adalah begini; ada orang yang meminang dirinya, tapi ternyata nggak sesuai dengan kriteria pria idamannya. Kan itu bikin bingung. Maksud hati berharap yang datang tipe Arjuna, eh, yang berani dan nekat ngedatengin malah tipe Rahwana. Karuan aja bak serasa disamber petir. Waduh, gimana cara menolaknya? Apalagi ortu juga turut campur, makin berabe aja tuh.
Masalah lain yang biasanya terjadi adalah, begitu ada anak cowok yang berminat sama kita, eh, kitanya masih pada sekolah or kuliah. Wah, itu bikin masalah juga ya? Mungkin kalo yang udah kuliah nggak terlalu bermasalah, asal pandai ngasih keyakinan sama ortu, karena memang kalo udah kuliah boleh nikah. Itu bedanya dengan yang masih sekolah di SMU. Paling nggak itu berdasarkan aturan main di negeri ini. Karena dalam Islam nggak begitu kok. Boleh-boleh aja asal udah pada baligh.
Masalah lainnya apa? Kita udah sama-sama oke dengan pasangan kita, eh, ortu kita malah nggak setuju. Mending kalo alasannya bisa dipertanggung jawabkan secara ajaran Islam, kadangkala hanya persoalan nasab, harta, status sosial, dan seabrek masalah yang nggak perlu dijadikan sebagai paramater untuk membina sebuah rumah tangga. Tapi walau bagaimana pun juga itu adalah masalah yang kudu diselesaikan dengan tuntas.
Ngomong-ngomong, jadi gimane neh kalo kamu dikhitbah?
Jangan repot-repot; terima!
Wacksss? Sembarangan, main terima aja. He..he..he.. ini ceritanya kalo memang udah sreg gitu lho. Apalagi ortu kita setuju. Kita dan anak cowok itu juga sama-sama aktivis pengajian. Wah, itu sih jangan dilama-lamain, mending segera terima pinangan dan nikah. Duh, enak banget ya kalo itu terjadi sama kita-kita. Jelas aja, itu kan kondisi ideal.
Oya, kita ngasih saran begini bukan ngebelain anak cowok lho. Tapi kita mencoba memberikan gambaran buat kamu-kamu anak puteri. Seperti halnya anak cowok, yang puteri juga jangan pilih-pilih deh. Maksudnya, menggunakan pilihan yang nggak perlu. Seperti, menentukan bahwa calon suaminya kudu pandai bahasa Arabnya, kudu sekufu dalam hal status sosial (kalo kita sarjana, ya, calon suami kita juga kudu sarjana), terus minimal punya wajah yang nggak kalah ganteng dengan para personelnya Westlife, udah gitu harus keturunan ningrat, lagi. Wah, itu keberatan sama kriteria, bisa-bisa jadi keburu tue Non, karena kriterianya ideal banget
.
Uppsss.. sori, kita nggak nuduh lho, tapi mengingatkan. Apalagi kamu udah tahu kalo yang berminat sama kamu itu orangnya berakhlak mulia dan pengetahuan agamanya oke. Cuma kurangnya, seperti yang tadi disebutkan. Jadi, sebetulnya nggak bijaksana dong kalo kamu menolak, dan kayaknya nggak pantes. Apalagi sih yang mau diharapkan? Iya nggak?
Lagipula, kriteria pemilihan yang berlaku buat kaum lelaki, juga berlaku buat anak puteri. Umar r.a. pernah berkata: Janganlah kalian menikahkan puteri kalian dengan lelaki yang buruk perangainya, karena kriteria-kriteria yang berlaku pada laki-laki juga berlaku bagi perempuan.
Dan buat para ayah serta walinya anak puteri, kudu waspada. Firman Allah Swt.: “Dan janganlah kamu nikahkan wanita-wanita mukminat dengan pria-pria musyrik sebelum mereka beriman. (TQS al-Baqarah [2]: 221)
Tapi kita yakin kok, bahwa kamu yang puteri juga udah ngeh dan nggak salah pilih dalam menentukan kriteria. Kalo yang dateng itu orangnya sholeh dan berakhlak mulia, biasanya temen puteri juga langsung nyetel aja. Iya nggak? Tapi kalo memang nggak sreg. Namanya juga manusia ya? Ada aja keinginan lebih dari itu. Dan keinginan itu boleh-boleh aja kok. Sebab yang namanya perasaan itu susah sih. Kudu bener-bener ada getaran yang, gimanaaa gitu. Aduh, sulit menjelaskan dengan kata-kata atau tulisan.
Kalo kejadiannya kayak gitu, kamu boleh aja nolak. Tapi kudu baik-baik ya. Anak cowok juga sama punya perasaan. Jadi kalo kamu nolak pinangan, ya jangan dipublikasikan ke orang lain dong. Apalagi sampe bangga segala, dan menganggap pasaran kamu naik karena kamu jual mahal. Wah, itu nggak baik, Non.
Boleh nggak wanita menawarkan diri?
Wah, nekat amat? Nggak juga tuh. Memang sih umumnya wanita bersikap pasif. Artinya nungguin ada yang meminang dirinya. Tapi Islam membolehkan lho, wanita menawarkan diri kepada seorang laki-laki untuk dijadikan istri. Pada masa Rasulullah saw. ada perempuan yang pernah melakukannya seperti diriwayatkan dalam hadis berikut:�Dari sahl bin sa’ad, bahwa Rasulullah saw. pernah didatangi oleh seorang perempuan, lalu ia berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya saya menyerahkan diri kepada Tuan”. Ia berdiri lama sekali, kemudian tampil seorang laki-laki dan berkata: “Ya Rasulullah, kawinkanlah saya dengan perempuan ini seandainya tuan tidak berhasrat kepadanya.” (HR Bukhari)
Nah, jadi silakan saja, kalo emang kamu berkenan untuk melakukan itu. Nggak dilarang kok. Memang sih, tradisi yang ada di sini, mengharuskan wanita bersikap pasif. Kalo ada yang agresif, malah mungkin dianggap kenapa-napa. Jadi dari segi hukum boleh-boleh aja. Mau? Silakan dicoba. He..he..he..
Kalo ortu yang bikin masalah?
Nah, ini juga jadi persoalan Non. Untuk urusan ini adakalanya gampang-gampang susah. Tapi jangan sedih. Tenang aja. Misalnya, kamu “dijodohin” sama ortu kamu. Padahal kamu nggak suka sama lelaki yang dipilihin sama ortumu. Sebenarnya kamu bisa aja nolak. Boleh kok.
Dari Ibnu Abbas bahwa seorang gadis datang kepada Rasulullah saw. lalu ia menceritakan kepada beliau tentang ayahnya yang mengawinkannya dengan laki-laki yang ia tidak sukai. Maka Rasulullah menyuruh dia untuk memilih (menerima atau menolak). (HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Daruquthni)
Begitu Non. Tapi tentunya kamu menyampaikan kepada ortu dengan baik-baik pula. Nggak boleh sambil marah-marah. Jadi, mau nerima silakan, mau nolak juga nggak masalah. Semua diserahkan kepada kamu, kok. Dan cuma kamu yang berhak menentukan pilihan. Bukan orang lain.
Dari Abdullah bin Buraidah dari bapaknya, ia berkata: “Seorang gadis datang kepada Rasulullah saw. lalu katanya: “Sesungguhnya ayahku mengawinkan aku dengan anak saudaranya, agar dengan begitu terangkat martabatnya.” Kata Abdullah: “Lalu Rasullah saw. menyerahkan urusannya kepadanya”. Dan katanya: “Saya mengizinkan tindakan ayahku kepadaku. Tetapi yang aku kehendaki yaitu memberitahu kepada kaum wanita bahwa bapak-bapak itu tidak mempunyai apa-apa dalam urusan ini (perkawinan).” (HR Ibnu Majah yang dikutip dalam kitab Fikih Sunnah, Sayyid Sabiq)
Kalo udah jadian dikhitbah?
Wah, alhamdulillah atuh. Tapi inget, khitbah adalah semacam “pintu” menuju nikah. Jadi belum sah ngapa-ngapain. Memang sih, mentang-mentang anaknya udah ada yang meminang, suka ada ortu yang membiarkan anaknya bebas kemana-mana bareng tunangannya. Wah, kalo gitu apa bedanya dengan pacaran? Itu kan sama aja gaul bebas. Dan jelas berdosa dong. Haram lho.
Nah, kalo emang kamu udah “kebelet” mendingan nikah aja langsung. Nggak usah ditunda-tunda lagi. Lebih save. Penyakit orang yang udah punya tempat untuk berbagai cerita, biasanya pengennya ketemu melulu. Celakanya, kalo terus-terusan ketemu, nggak ada jaminan kalo iman kamu juga makin menipis. Jangan heran kalo kemudian malah berzina. Ih, naudzubillahi min dzalik.
Memang sih, kalo kamu udah jadian dikhitbah, berbicara or kirim-kirim surat dengan calonmu nggak dilarang. Sah-sah saja. Tapi inget, jangan keterusan. Bisa gaswat. Jangan-jangan nanti kamu sulit ngebedain antara rasa suka dengan nafsu bisikan iblis. Celaka!
Kita sih menyarankan kalo udah oke mending segera nikah aja. Meski memang waktu dari khitbah ke nikah itu nggak ditentukan dengan jelas, artinya mau 50 tahun lagi nikah juga boleh (ih, udah jadi nenek-nenek dong? Ya, salah sendiri he..he..). Tapi meski demikian, alangkah utamanya kalo kamu segera menikah saja.
Pesan buat yang masih sekolah
Memang asyik ya kalo bicara soal cinta dan pernikahan. Jujur saja, hampir semua orang seneng ngomongin ini. jadikan saja ini sebagai tambahan wawasan buat kamu. Dan kita yakin kok, bahwa kamu udah bisa membedakan mana yang prioritas dan mana yang bisa ditunda. Iya nggak? Sekarang fokus belajar, dan jangan nekat pacaran. Kita juga nggak abis pikir sama kondisi masyarakat dan negara sekarang ini; gaul bebas dimudahkan, tapi nikah malah dipermasalahkan. Kebalik-balik memang. Oke, jangan lupa, tetep semangat mengkaji Islam! Read More >>
Nah, ngomongin soal khitbah berarti kita sedang bicara tentang cinta. Khususnya tentang sarana untuk menyalurkan rasa cinta ini dengan baik. Memang sih, kalo lihat temen-temen remaja yang lain, kalo di antara mereka saling jatuh cinta, biasanya langsung diwujudkan dengan pacaran. Dan ini kita pikir udah pada tahu semua gimana sih rasanya, or ngelihat orang yang sedang pacaran. Mesra dan ah, nggak usah diterusin deh. Tapi inget lho, pacaran itu kan cara penyaluran rasa cinta yang diharamkan oleh Allah Swt.
khitbah adalah pernyataan seorang lelaki kepada wanita yang disukainya untuk serius menikahinya. Dan ini disampaikan kepada ortunya. Tentu setelah kita udah sama-sama janjian dong. Kalo nggak, bisa gaswat. Jadi khitbah boleh dibilang nandain calon kita. Pokoknya diiket dulu deh, sebelum akhirnya dinikahi.
Nah, kadangkala, anak puteri yang akhirnya kebingungan. Kalo kemarin kita bahas anak cowok yang bimbang dan kurang pede untuk mengkhitbah akhwat, kita kasih support supaya mantap dan berani, sekarang kita coba nemenin anak puteri untuk bersikap bijaksana dalam menghadapi pinangan anak cowok.
Berdasarkan pengalaman neh, paling nggak ada beberapa masalah yang dihadapi anak puteri dalam urusan ini. Misalnya, ketika datang anak cowok yang berani menyatakan keseriusannya untuk menikah dengannya, adakalanya anak puteri suka keder menghadapai ini. Sebab, tak selamanya begitu mendapat pinangan langsung seneng. Kenapa? Bisa jadi kasusnya adalah begini; ada orang yang meminang dirinya, tapi ternyata nggak sesuai dengan kriteria pria idamannya. Kan itu bikin bingung. Maksud hati berharap yang datang tipe Arjuna, eh, yang berani dan nekat ngedatengin malah tipe Rahwana. Karuan aja bak serasa disamber petir. Waduh, gimana cara menolaknya? Apalagi ortu juga turut campur, makin berabe aja tuh.
Masalah lain yang biasanya terjadi adalah, begitu ada anak cowok yang berminat sama kita, eh, kitanya masih pada sekolah or kuliah. Wah, itu bikin masalah juga ya? Mungkin kalo yang udah kuliah nggak terlalu bermasalah, asal pandai ngasih keyakinan sama ortu, karena memang kalo udah kuliah boleh nikah. Itu bedanya dengan yang masih sekolah di SMU. Paling nggak itu berdasarkan aturan main di negeri ini. Karena dalam Islam nggak begitu kok. Boleh-boleh aja asal udah pada baligh.
Masalah lainnya apa? Kita udah sama-sama oke dengan pasangan kita, eh, ortu kita malah nggak setuju. Mending kalo alasannya bisa dipertanggung jawabkan secara ajaran Islam, kadangkala hanya persoalan nasab, harta, status sosial, dan seabrek masalah yang nggak perlu dijadikan sebagai paramater untuk membina sebuah rumah tangga. Tapi walau bagaimana pun juga itu adalah masalah yang kudu diselesaikan dengan tuntas.
Ngomong-ngomong, jadi gimane neh kalo kamu dikhitbah?
Jangan repot-repot; terima!
Wacksss? Sembarangan, main terima aja. He..he..he.. ini ceritanya kalo memang udah sreg gitu lho. Apalagi ortu kita setuju. Kita dan anak cowok itu juga sama-sama aktivis pengajian. Wah, itu sih jangan dilama-lamain, mending segera terima pinangan dan nikah. Duh, enak banget ya kalo itu terjadi sama kita-kita. Jelas aja, itu kan kondisi ideal.
Oya, kita ngasih saran begini bukan ngebelain anak cowok lho. Tapi kita mencoba memberikan gambaran buat kamu-kamu anak puteri. Seperti halnya anak cowok, yang puteri juga jangan pilih-pilih deh. Maksudnya, menggunakan pilihan yang nggak perlu. Seperti, menentukan bahwa calon suaminya kudu pandai bahasa Arabnya, kudu sekufu dalam hal status sosial (kalo kita sarjana, ya, calon suami kita juga kudu sarjana), terus minimal punya wajah yang nggak kalah ganteng dengan para personelnya Westlife, udah gitu harus keturunan ningrat, lagi. Wah, itu keberatan sama kriteria, bisa-bisa jadi keburu tue Non, karena kriterianya ideal banget
.
Uppsss.. sori, kita nggak nuduh lho, tapi mengingatkan. Apalagi kamu udah tahu kalo yang berminat sama kamu itu orangnya berakhlak mulia dan pengetahuan agamanya oke. Cuma kurangnya, seperti yang tadi disebutkan. Jadi, sebetulnya nggak bijaksana dong kalo kamu menolak, dan kayaknya nggak pantes. Apalagi sih yang mau diharapkan? Iya nggak?
Lagipula, kriteria pemilihan yang berlaku buat kaum lelaki, juga berlaku buat anak puteri. Umar r.a. pernah berkata: Janganlah kalian menikahkan puteri kalian dengan lelaki yang buruk perangainya, karena kriteria-kriteria yang berlaku pada laki-laki juga berlaku bagi perempuan.
Dan buat para ayah serta walinya anak puteri, kudu waspada. Firman Allah Swt.: “Dan janganlah kamu nikahkan wanita-wanita mukminat dengan pria-pria musyrik sebelum mereka beriman. (TQS al-Baqarah [2]: 221)
Tapi kita yakin kok, bahwa kamu yang puteri juga udah ngeh dan nggak salah pilih dalam menentukan kriteria. Kalo yang dateng itu orangnya sholeh dan berakhlak mulia, biasanya temen puteri juga langsung nyetel aja. Iya nggak? Tapi kalo memang nggak sreg. Namanya juga manusia ya? Ada aja keinginan lebih dari itu. Dan keinginan itu boleh-boleh aja kok. Sebab yang namanya perasaan itu susah sih. Kudu bener-bener ada getaran yang, gimanaaa gitu. Aduh, sulit menjelaskan dengan kata-kata atau tulisan.
Kalo kejadiannya kayak gitu, kamu boleh aja nolak. Tapi kudu baik-baik ya. Anak cowok juga sama punya perasaan. Jadi kalo kamu nolak pinangan, ya jangan dipublikasikan ke orang lain dong. Apalagi sampe bangga segala, dan menganggap pasaran kamu naik karena kamu jual mahal. Wah, itu nggak baik, Non.
Boleh nggak wanita menawarkan diri?
Wah, nekat amat? Nggak juga tuh. Memang sih umumnya wanita bersikap pasif. Artinya nungguin ada yang meminang dirinya. Tapi Islam membolehkan lho, wanita menawarkan diri kepada seorang laki-laki untuk dijadikan istri. Pada masa Rasulullah saw. ada perempuan yang pernah melakukannya seperti diriwayatkan dalam hadis berikut:�Dari sahl bin sa’ad, bahwa Rasulullah saw. pernah didatangi oleh seorang perempuan, lalu ia berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya saya menyerahkan diri kepada Tuan”. Ia berdiri lama sekali, kemudian tampil seorang laki-laki dan berkata: “Ya Rasulullah, kawinkanlah saya dengan perempuan ini seandainya tuan tidak berhasrat kepadanya.” (HR Bukhari)
Nah, jadi silakan saja, kalo emang kamu berkenan untuk melakukan itu. Nggak dilarang kok. Memang sih, tradisi yang ada di sini, mengharuskan wanita bersikap pasif. Kalo ada yang agresif, malah mungkin dianggap kenapa-napa. Jadi dari segi hukum boleh-boleh aja. Mau? Silakan dicoba. He..he..he..
Kalo ortu yang bikin masalah?
Nah, ini juga jadi persoalan Non. Untuk urusan ini adakalanya gampang-gampang susah. Tapi jangan sedih. Tenang aja. Misalnya, kamu “dijodohin” sama ortu kamu. Padahal kamu nggak suka sama lelaki yang dipilihin sama ortumu. Sebenarnya kamu bisa aja nolak. Boleh kok.
Dari Ibnu Abbas bahwa seorang gadis datang kepada Rasulullah saw. lalu ia menceritakan kepada beliau tentang ayahnya yang mengawinkannya dengan laki-laki yang ia tidak sukai. Maka Rasulullah menyuruh dia untuk memilih (menerima atau menolak). (HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Daruquthni)
Begitu Non. Tapi tentunya kamu menyampaikan kepada ortu dengan baik-baik pula. Nggak boleh sambil marah-marah. Jadi, mau nerima silakan, mau nolak juga nggak masalah. Semua diserahkan kepada kamu, kok. Dan cuma kamu yang berhak menentukan pilihan. Bukan orang lain.
Dari Abdullah bin Buraidah dari bapaknya, ia berkata: “Seorang gadis datang kepada Rasulullah saw. lalu katanya: “Sesungguhnya ayahku mengawinkan aku dengan anak saudaranya, agar dengan begitu terangkat martabatnya.” Kata Abdullah: “Lalu Rasullah saw. menyerahkan urusannya kepadanya”. Dan katanya: “Saya mengizinkan tindakan ayahku kepadaku. Tetapi yang aku kehendaki yaitu memberitahu kepada kaum wanita bahwa bapak-bapak itu tidak mempunyai apa-apa dalam urusan ini (perkawinan).” (HR Ibnu Majah yang dikutip dalam kitab Fikih Sunnah, Sayyid Sabiq)
Kalo udah jadian dikhitbah?
Wah, alhamdulillah atuh. Tapi inget, khitbah adalah semacam “pintu” menuju nikah. Jadi belum sah ngapa-ngapain. Memang sih, mentang-mentang anaknya udah ada yang meminang, suka ada ortu yang membiarkan anaknya bebas kemana-mana bareng tunangannya. Wah, kalo gitu apa bedanya dengan pacaran? Itu kan sama aja gaul bebas. Dan jelas berdosa dong. Haram lho.
Nah, kalo emang kamu udah “kebelet” mendingan nikah aja langsung. Nggak usah ditunda-tunda lagi. Lebih save. Penyakit orang yang udah punya tempat untuk berbagai cerita, biasanya pengennya ketemu melulu. Celakanya, kalo terus-terusan ketemu, nggak ada jaminan kalo iman kamu juga makin menipis. Jangan heran kalo kemudian malah berzina. Ih, naudzubillahi min dzalik.
Memang sih, kalo kamu udah jadian dikhitbah, berbicara or kirim-kirim surat dengan calonmu nggak dilarang. Sah-sah saja. Tapi inget, jangan keterusan. Bisa gaswat. Jangan-jangan nanti kamu sulit ngebedain antara rasa suka dengan nafsu bisikan iblis. Celaka!
Kita sih menyarankan kalo udah oke mending segera nikah aja. Meski memang waktu dari khitbah ke nikah itu nggak ditentukan dengan jelas, artinya mau 50 tahun lagi nikah juga boleh (ih, udah jadi nenek-nenek dong? Ya, salah sendiri he..he..). Tapi meski demikian, alangkah utamanya kalo kamu segera menikah saja.
Pesan buat yang masih sekolah
Memang asyik ya kalo bicara soal cinta dan pernikahan. Jujur saja, hampir semua orang seneng ngomongin ini. jadikan saja ini sebagai tambahan wawasan buat kamu. Dan kita yakin kok, bahwa kamu udah bisa membedakan mana yang prioritas dan mana yang bisa ditunda. Iya nggak? Sekarang fokus belajar, dan jangan nekat pacaran. Kita juga nggak abis pikir sama kondisi masyarakat dan negara sekarang ini; gaul bebas dimudahkan, tapi nikah malah dipermasalahkan. Kebalik-balik memang. Oke, jangan lupa, tetep semangat mengkaji Islam! Read More >>
Bila Aku Jatuh Cinta
Allahu Rabbi aku minta izin
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang
Hingga membuat lalai akan adanya Engkau
Allahu Rabbi
Aku punya pinta
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu yang tak terbatas
Biar rasaku pada-Mu tetap utuh
Allahu Rabbi
Izinkanlah bila suatu saat aku jatuh cinta
Pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan
kasih-Mu
dan membuatku semakin mengagumi-Mu
Allahu Rabbi
Bila suatu saat aku jatuh hati
Pertemukanlah kami
Berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cinta-Mu
Allahu Rabbi
Pintaku terakhir adalah seandainya kujatuh hati
Jangan pernah Kau palingkan wajah-Mu dariku
Anugerahkanlah aku cinta-Mu...
Cinta yang tak pernah pupus oleh waktu
Amin !
Read More >>
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang
Hingga membuat lalai akan adanya Engkau
Allahu Rabbi
Aku punya pinta
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu yang tak terbatas
Biar rasaku pada-Mu tetap utuh
Allahu Rabbi
Izinkanlah bila suatu saat aku jatuh cinta
Pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan
kasih-Mu
dan membuatku semakin mengagumi-Mu
Allahu Rabbi
Bila suatu saat aku jatuh hati
Pertemukanlah kami
Berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cinta-Mu
Allahu Rabbi
Pintaku terakhir adalah seandainya kujatuh hati
Jangan pernah Kau palingkan wajah-Mu dariku
Anugerahkanlah aku cinta-Mu...
Cinta yang tak pernah pupus oleh waktu
Amin !
Read More >>
Proposal Nikah
KADO BUAT YANG MAU DAN SIAP MENIKAH..BARAKALLAHU !! (By : 4121X13)
Latar Belakang
Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati, saya cintai dan sayangi, semoga Allah selalu memberkahi langkah-langkah kita dan tidak putus-putus memberikan nikmatNya kepada kita. Amin
Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati..sebagai hamba Allah, saya telah diberi berbagai nikmat. Maha Benar Allah yang telah berfirman : "Kami akan perlihatkan tanda-tanda kebesaran kami di ufuk-ufuk dan dalam diri mereka, sehingga mereka dapat mengetahui dengan jelas bahwa Allah itu benar dan Maha Melihat segala sesuatu".
Nikmat tersebut diantaranya ialah fitrah kebutuhan biologis, saling membutuhkan terhadap lawan jenis.. yaitu: Menikah ! Fitrah pemberian Allah yang telah lekat pada kehidupan manusia, dan jika manusia melanggar fitrah pemberian Allah, hanyalah kehancuran yang didapatkannya..Na'udzubillah ! Dan Allah telah berfirman : "Janganlah kalian mendekati zina, karena zina adalah perbuatan yang buruk lagi kotor" (Qs. Al Israa' : 32).
Ibunda dan Ayahanda tercinta..melihat pergaulan anak muda dewasa itu sungguh amat memprihatinkan, mereka seolah tanpa sadar melakukan perbuatan-perbuatan maksiat kepada Allah. Seolah-olah, dikepala mereka yang ada hanya pikiran-pikiran yang mengarah kepada kebahagiaan semu dan sesaat. Belum lagi kalau ditanyakan kepada mereka tentang menikah. "Saya nggak sempat mikirin kawin, sibuk kerja, lagipula saya masih ngumpulin barang dulu," ataupun Kerja belum mapan , belum cukup siap untuk berumah tangga¡¨, begitu kata mereka, padahal kurang apa sih mereka. Mudah-mudahan saya bisa bertahan dan bersabar agar tak berbuat maksiat. Wallahu a'lam.
Ibunda dan Ayahanda tersayang..bercerita tentang pergaulan anak muda yang cenderung bebas pada umumnya, rasanya tidak cukup tinta ini untuk saya torehkan. Setiap saya menulis peristiwa anak muda di majalah Islam, pada saat yang sama terjadi pula peristiwa baru yang menuntut perhatian kita..Astaghfirullah.. Ibunda dan Ayahanda..inilah antara lain yang melatar belakangi saya ingin menyegerakan menikah.
Dasar Pemikiran
Dari Al Qur¡¦an dan Al Hadits :
1. "Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui." (QS. An Nuur (24) : 32).
2. "Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah." (QS. Adz Dzariyaat (51) : 49).
3. ¨Maha Suci Allah yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui¡¨ (Qs. Yaa Siin (36) : 36).
4. Bagi kalian Allah menciptakan pasangan-pasangan (istri-istri) dari jenis kalian sendiri, kemudian dari istri-istri kalian itu Dia ciptakan bagi kalian anak cucu keturunan, dan kepada kalian Dia berikan rezeki yang baik-baik (Qs. An Nahl (16) : 72).
5. Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (Qs. Ar. Ruum (30) : 21).
6. Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi pelindung (penolong) bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasulnya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah ; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Qs. At Taubah (9) : 71).
7. Wahai manusia, bertaqwalah kamu sekalian kepada Tuhanmu yang telah menjadikan kamu satu diri, lalu Ia jadikan daripadanya jodohnya, kemudian Dia kembangbiakkan menjadi laki-laki dan perempuan yang banyak sekali. (Qs. An Nisaa (4) : 1).
8. Wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik. Lelaki yang baik untuk wanita yang baik pula (begitu pula sebaliknya). Bagi mereka ampunan dan reski yang melimpah (yaitu : Surga) (Qs. An Nuur (24) : 26).
9. ..Maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja..(Qs. An Nisaa' (4) : 3).
10. Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukminah apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sesungguhnya dia telah berbuat kesesatan yang nyata. (Qs. Al Ahzaab (33) : 36).
11. Anjuran-anjuran Rasulullah untuk Menikah : Rasulullah SAW bersabda: "Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku !"(HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.).
12. Empat macam diantara sunnah-sunnah para Rasul yaitu : berkasih sayang, memakai wewangian, bersiwak dan menikah (HR. Tirmidzi).
13. Dari Aisyah, "Nikahilah olehmu kaum wanita itu, maka sesungguhnya mereka akan mendatangkan harta (rezeki) bagi kamu¡¨ (HR. Hakim dan Abu Dawud). 14. Jika ada manusia belum hidup bersama pasangannya, berarti hidupnya akan timpang dan tidak berjalan sesuai dengan ketetapan Allah SWT dan orang yang menikah berarti melengkapi agamanya, sabda Rasulullah SAW: "Barangsiapa diberi Allah seorang istri yang sholihah, sesungguhnya telah ditolong separoh agamanya. Dan hendaklah bertaqwa kepada Allah separoh lainnya." (HR. Baihaqi).
14. Dari Amr Ibnu As, Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasannya ialah wanita shalihat.(HR. Muslim, Ibnu Majah dan An Nasai).
15. "Tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim) : a. Orang yang berjihad / berperang di jalan Allah. b. Budak yang menebus dirinya dari tuannya. c. Pemuda / i yang menikah karena mau menjauhkan dirinya dari yang haram."
16. "Wahai generasi muda ! Bila diantaramu sudah mampu menikah hendaklah ia nikah, karena mata akan lebih terjaga, kemaluan akan lebih terpelihara." (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas'ud).
17. Kawinlah dengan wanita yang mencintaimu dan yang mampu beranak. Sesungguhnya aku akan membanggakan kamu sebagai umat yang terbanyak (HR. Abu Dawud).
18. Saling menikahlah kamu, saling membuat keturunanlah kamu, dan perbanyaklah (keturunan). Sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya jumlahmu di tengah umat yang lain (HR. Abdurrazak dan Baihaqi).
19. Shalat 2 rakaat yang diamalkan orang yang sudah berkeluarga lebih baik, daripada 70 rakaat yang diamalkan oleh jejaka (atau perawan) (HR. Ibnu Ady dalam kitab Al Kamil dari Abu Hurairah).
20. Rasulullah SAW. bersabda : "Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah" (HR. Bukhari).
21. Diantara kamu semua yang paling buruk adalah yang hidup membujang, dan kematian kamu semua yang paling hina adalah kematian orang yang memilih hidup membujang (HR. Abu Ya¡¦la dan Thabrani).
22. Dari Anas, Rasulullah SAW. pernah bersabda : Barang siapa mau bertemu dengan Allah dalam keadaan bersih lagi suci, maka kawinkanlah dengan perempuan terhormat. (HR. Ibnu Majah,dhaif).
23. Rasulullah SAW bersabda : Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian diantaramu. Sesungguhnya, Allah akan memperbaiki akhlak, meluaskan rezeki, dan menambah keluhuran mereka (Al Hadits).
Tujuan Pernikahan
1. Melaksanakan perintah Allah dan Sunnah Rasul.
2. Melanjutkan generasi muslim sebagai pengemban risalah Islam.
3. Mewujudkan keluarga Muslim menuju masyarakat Muslim.
4. Mendapatkan cinta dan kasih sayang.
5. Ketenangan Jiwa dengan memelihara kehormatan diri (menghindarkan diri dari perbuatan maksiat / perilaku hina lainnya).
6. Agar kaya (sebaik-baik kekayaan adalah isteri yang shalihat).
7. Meluaskan kekerabatan (menyambung tali silaturahmi / menguatkan ikatan kekeluargaan)
Kesiapan Pribadi
1. Kondisi Qalb yang sudah mantap dan makin bertambah yakin setelah istikharah. Rasulullah SAW. bersabda : ¡§Man Jadda Wa Jadda¡¨ (Siapa yang bersungguh-sungguh pasti ia akan berhasil melewati rintangan itu).
2. Termasuk wajib nikah (sulit untuk shaum).
3. Termasuk tathhir (mensucikan diri).
4. Secara materi, Insya Allah siap. ¡§Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya¡¨ (Qs. At Thalaq (65) : 7)
Akibat Menunda atau Mempersulit Pernikahan
* Kerusakan dan kehancuran moral akibat pacaran dan free sex.
* Tertunda lahirnya generasi penerus risalah.
* Tidak tenangnya Ruhani dan perasaan, karena Allah baru memberi ketenangan dan kasih sayang bagi orang yang menikah.
* Menanggung dosa di akhirat kelak, karena tidak dikerjakannya kewajiban menikah saat syarat yang Allah dan RasulNya tetapkan terpenuhi.
* Apalagi sampai bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Rasulullah SAW. bersabda: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia bersunyi sepi berduaan dengan wanita yang tidak didampingi mahramnya, karena yang menjadi pihak ketiganya adalah syaitan." (HR. Ahmad) dan "Sungguh kepala salah seorang diantara kamu ditusuk dengan jarum dari besi lebih baik, daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya" (HR. Thabrani dan Baihaqi).. Astaghfirullahaladzim.. Na'udzubillahi min dzalik
Namun, umumnya yang terjadi di masyarakat di seputar pernikahan adalah sebagai berikut ini :
* Status yang mulia bukan lagi yang taqwa, melainkan gelar yang disandang:Ir, DR, SE, SH, ST, dsb
* Pesta pernikahan yang wah / mahar yang tinggi, sebab merupakan kebanggaan tersendiri, bukan di selenggarakan penuh ketawadhu'an sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. (Pernikahan hendaklah dilandasi semata-mata hanya mencari ridha Allah dan RasulNya. Bukan di campuri dengan harapan ridha dari manusia (sanjungan, tidak enak kata orang). Saya yakin sekali.. bila Allah ridha pada apa yang kita kerjakan, maka kita akan selamat di dunia dan di akhirat kelak.)
* Pernikahan dianggap penghalang untuk menyenangkan orang tua.
* Masyarakat menganggap pernikahan akan merepotkan Studi, padahal justru dengan menikah penglihatan lebih terjaga dari hal-hal yang haram, dan semakin semangat menyelesaikan kuliah.
Memperbaiki Niat :
Innamal a'malu binniyat....... Niat adalah kebangkitan jiwa dan kecenderungan pada apa-apa yang muncul padanya berupa tujuan yang dituntut yang penting baginya, baik secara segera maupun ditangguhkan.
Niat Ketika Memilih Pendamping
Rasulullah bersabda "Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu dibarakahi-Nya, Siapa yang menikahi seorang wanita karena kedudukannya, Allah akan menambahkan kehinaan kepadanya, Siapa yang menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan memberinya kemiskinan, Siapa yang menikahi wanita karena bagus nasabnya, Allah akan menambahkan kerendahan padanya, Namun siapa yang menikah hanya karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah senantiasa memberi barakah dan menambah kebarakahan itu padanya."(HR. Thabrani).
"Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya, mungkin saja kecantikan itu membuatmu hina. Jangan kamu menikahi wanita karena harta / tahtanya mungkin saja harta / tahtanya membuatmu melampaui batas. Akan tetapi nikahilah wanita karena agamanya. Sebab, seorang budak wanita yang shaleh, meskipun buruk wajahnya adalah lebih utama". (HR. Ibnu Majah).
Nabi SAW. bersabda : Janganlah kalian menikahi kerabat dekat, sebab (akibatnya) dapat melahirkan anak yang lemah (baik akal dan fisiknya) (Al Hadits).
Dari Jabir r.a., Sesungguhnya Nabi SAW. telah bersabda, ¡§Sesungguhnya perempuan itu dinikahi orang karena agamanya, kedudukan, hartanya, dan kecantikannya ; maka pilihlah yang beragama." (HR. Muslim dan Tirmidzi). Niat dalam Proses Pernikahan
Masalah niat tak berhenti sampai memilih pendamping. Niat masih terus menyertai berbagai urusan yang berkenaan dengan terjadinya pernikahan. Mulai dari memberi mahar, menebar undangan walimah, menyelenggarakan walimah. Walimah lebih dari dua hari lebih dekat pada mudharat, sedang walimah hari ketiga termasuk riya'. "Berikanlah mahar (mas kawin) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan."(Qs. An Nisaa (4) : 4).
Rasulullah SAW bersabda : "Wanita yang paling agung barakahnya, adalah yang paling ringan maharnya" (HR. Ahmad, Al Hakim, Al Baihaqi dengan sanad yang shahih). Dari Aisyah, bahwasanya Rasulullah SAW. telah bersabda, "Sesungguhnya berkah nikah yang besar ialah yang sederhana belanjanya (maharnya)" (HR. Ahmad). Nabi SAW pernah berjanji : "Jangan mempermahal nilai mahar. Sesungguhnya kalau lelaki itu mulia di dunia dan takwa di sisi Allah, maka Rasulullah sendiri yang akan menjadi wali pernikahannya." (HR. Ashhabus Sunan). Dari Anas, dia berkata : " Abu Thalhah menikahi Ummu Sulaim dengan mahar berupa keIslamannya" (Ditakhrij dari An Nasa'i)..Subhanallah..
Proses pernikahan mempengaruhi niat. Proses pernikahan yang sederhana dan mudah insya Allah akan mendekatkan kepada bersihnya niat, memudahkan proses pernikahan bisa menjernihkan niat. Sedangkan mempersulit proses pernikahan akan mengkotori niat. "Adakanlah perayaan sekalipun hanya memotong seekor kambing." (HR. Bukhari dan Muslim)
Pernikahan haruslah memenuhi kriteria Lillah, Billah, dan Ilallah. Yang dimaksud Lillah, ialah niat nikah itu harus karena Allah. Proses dan caranya harus Billah, sesuai dengan ketentuan dari Allah.. Termasuk didalamnya dalam pemilihan calon, dan proses menuju jenjang pernikahan (bersih dari pacaran / nafsu atau tidak). Terakhir Ilallah, tujuannya dalam rangka menggapai keridhoan Allah.
Sehingga dalam penyelenggaraan nikah tidak bermaksiat pada Allah ; misalnya : adanya pemisahan antara tamu lelaki dan wanita, tidak berlebih-lebihan, tidak makan sambil berdiri (adab makanan dimasyarakat biasanya standing party-ini yang harus di hindari, padahal tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW yang demikian), Pengantin tidak disandingkan, adab mendo'akan pengantin dengan do'a : Barokallahu laka wa baroka 'alaikum wa jama'a baynakuma fii khoir.. (Semoga Allah membarakahi kalian dan melimpahkan barakah kepada kalian), tidak bersalaman dengan lawan jenis, Tidak berhias secara berlebihan ("Dan janganlah bertabarruj (berhias) seperti tabarrujnya jahiliyah yang pertama" - Qs. Al Ahzab (33),
Meraih Pernikahan Ruhani
Jika seseorang sudah dipenuhi dengan kecintaan dan kerinduan pada Allah, maka ia akan berusaha mencari seseorang yang sama dengannya. Secara psikologis, seseorang akan merasa tenang dan tentram jika berdampingan dengan orang yang sama dengannya, baik dalam perasaan, pandangan hidup dan lain sebagainya. Karena itu, berbahagialah seseorang yang dapat merasakan cinta Allah dari pasangan hidupnya, yakni orang yang dalam hatinya Allah hadir secara penuh. Mereka saling mencintai bukan atas nama diri mereka, melainkan atas nama Allah dan untuk Allah.
Betapa indahnya pertemuan dua insan yang saling mencintai dan merindukan Allah. Pernikahan mereka bukanlah semata-mata pertemuan dua insan yang berlainan jenis, melainkan pertemuan dua ruhani yang sedang meniti perjalanan menuju Allah, kekasih yang mereka cintai. Itulah yang dimaksud dengan pernikahan ruhani. KALO KITA BERKUALITAS DI SISI ALLAH, PASTI YANG AKAN DATANG JUGA SEORANG (JODOH UNTUK KITA) YANG BERKUALITAS PULA (Al Izzah 18 / Th. 2)
Penutup
"Hai, orang-orang beriman !! Janganlah kamu mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah kepada kamu dan jangan kamu melampaui batas, karena Allah tidak suka kepada orang-orang yang melampaui batas." (Qs. Al Maidaah (5) : 87).
Karena sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan. Dan sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (Qs. Alam Nasyrah (94) : 5- 6 ).
Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati, saya sayangi dan saya cintai atas nama Allah.. demikanlah proposal ini (secara fitrah) saya tuliskan. Saya sangat berharap Ibunda dan Ayahanda.. memahami keinginan saya. Atas restu dan doa dari Ibunda serta Ayahanda..saya ucapkan "Jazakumullah Khairan katsiira". "Ya Allah, jadikanlah aku ridho terhadap apa-apa yang Engkau tetapkan dan jadikan barokah apa-apa yang telah Engkau takdirkan, sehingga tidak ingin aku menyegerakan apa-apa yang engkau tunda dan menunda apa-apa yang Engkau segerakan.. YA ALLAH BERILAH PAHALA DALAM MUSIBAHKU KALI INI DAN GANTIKAN UNTUKKU YANG LEBIH BAIK DARINYA.. Amiin"
====================================
Dedicated to : My inspiration .... yang pernah singgah dan menghuni "hati" ...Astaghfirullah !! Saat langkah ada didunia maya, tak menapak di bumi-Nya..Lalu, kucoba atur gelombang asa..Robbi kudengar panggilanMu tuk meniti jalan RidhoMu.. Kuharap ada penolong dari hambaMu meneguhkan tapak kakiku di jalan-Mu dan menemani panjangnya jalan dakwah yang harus aku titi.. " Saat Cinta dan Rindu tuk gapai Syurga dan Syahid di jalanNya makin membuncah.."
====================================
Maraji / Referensi :
1. Majalah Ishlah, Edisi Awal Tahun 1995.
2. Fiqh Islam, H. Sulaiman Rasyid, 1994, Cet. 27, Bandung, Sinar Baru Algesindo.
3. Fikih Sunnah 6, Sayyid Sabiq, 1980, cet. 15, Bandung, Pt. Al Ma'arif.
4. Kupinang Engkau dengan Hamdalah, Muhammad Faudzil Adhim, 1998, Yogyakarta, Mitra Pustaka.
5. Indahnya Pernikahan Dini, Muhammad Faudzil Adhim, 2002, Cet. 1, Jakarta, Gema Insani Press.
6. Rintangan Pernikahan dan Pemecahannya, Abdullah Nashih Ulwan, 1997, Cet. 1, Jakarta, Studia Press.
7. Perkawinan Masalah Orang muda, Orang Tua dan Negara, Abdullah Nashih Ulwan, 1996, Cet. 5, Jakarta, Gema Insani Press.
8. Kebebasan Wanita, jilid 1, 5, 6, A.H.A. Syuqqah, 1998, Cet.1, Jakarta, Gema Insani Press
9. Sulitnya Berumah Tangga, Muhammad Utsman Al Khasyt, 1999, Cet. 18, Jakarta, Gema Insani Press.
10. Majalah Cerdas Pemuda Islam Al Izzah, Wahai Pemuda, Menikahlah, No. 17/Th. 2 31 Mei 2001, Jakarta, YPDS Al Mukhtar.
Read More >>
Latar Belakang
Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati, saya cintai dan sayangi, semoga Allah selalu memberkahi langkah-langkah kita dan tidak putus-putus memberikan nikmatNya kepada kita. Amin
Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati..sebagai hamba Allah, saya telah diberi berbagai nikmat. Maha Benar Allah yang telah berfirman : "Kami akan perlihatkan tanda-tanda kebesaran kami di ufuk-ufuk dan dalam diri mereka, sehingga mereka dapat mengetahui dengan jelas bahwa Allah itu benar dan Maha Melihat segala sesuatu".
Nikmat tersebut diantaranya ialah fitrah kebutuhan biologis, saling membutuhkan terhadap lawan jenis.. yaitu: Menikah ! Fitrah pemberian Allah yang telah lekat pada kehidupan manusia, dan jika manusia melanggar fitrah pemberian Allah, hanyalah kehancuran yang didapatkannya..Na'udzubillah ! Dan Allah telah berfirman : "Janganlah kalian mendekati zina, karena zina adalah perbuatan yang buruk lagi kotor" (Qs. Al Israa' : 32).
Ibunda dan Ayahanda tercinta..melihat pergaulan anak muda dewasa itu sungguh amat memprihatinkan, mereka seolah tanpa sadar melakukan perbuatan-perbuatan maksiat kepada Allah. Seolah-olah, dikepala mereka yang ada hanya pikiran-pikiran yang mengarah kepada kebahagiaan semu dan sesaat. Belum lagi kalau ditanyakan kepada mereka tentang menikah. "Saya nggak sempat mikirin kawin, sibuk kerja, lagipula saya masih ngumpulin barang dulu," ataupun Kerja belum mapan , belum cukup siap untuk berumah tangga¡¨, begitu kata mereka, padahal kurang apa sih mereka. Mudah-mudahan saya bisa bertahan dan bersabar agar tak berbuat maksiat. Wallahu a'lam.
Ibunda dan Ayahanda tersayang..bercerita tentang pergaulan anak muda yang cenderung bebas pada umumnya, rasanya tidak cukup tinta ini untuk saya torehkan. Setiap saya menulis peristiwa anak muda di majalah Islam, pada saat yang sama terjadi pula peristiwa baru yang menuntut perhatian kita..Astaghfirullah.. Ibunda dan Ayahanda..inilah antara lain yang melatar belakangi saya ingin menyegerakan menikah.
Dasar Pemikiran
Dari Al Qur¡¦an dan Al Hadits :
1. "Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui." (QS. An Nuur (24) : 32).
2. "Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah." (QS. Adz Dzariyaat (51) : 49).
3. ¨Maha Suci Allah yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui¡¨ (Qs. Yaa Siin (36) : 36).
4. Bagi kalian Allah menciptakan pasangan-pasangan (istri-istri) dari jenis kalian sendiri, kemudian dari istri-istri kalian itu Dia ciptakan bagi kalian anak cucu keturunan, dan kepada kalian Dia berikan rezeki yang baik-baik (Qs. An Nahl (16) : 72).
5. Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (Qs. Ar. Ruum (30) : 21).
6. Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi pelindung (penolong) bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasulnya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah ; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Qs. At Taubah (9) : 71).
7. Wahai manusia, bertaqwalah kamu sekalian kepada Tuhanmu yang telah menjadikan kamu satu diri, lalu Ia jadikan daripadanya jodohnya, kemudian Dia kembangbiakkan menjadi laki-laki dan perempuan yang banyak sekali. (Qs. An Nisaa (4) : 1).
8. Wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik. Lelaki yang baik untuk wanita yang baik pula (begitu pula sebaliknya). Bagi mereka ampunan dan reski yang melimpah (yaitu : Surga) (Qs. An Nuur (24) : 26).
9. ..Maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja..(Qs. An Nisaa' (4) : 3).
10. Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukminah apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sesungguhnya dia telah berbuat kesesatan yang nyata. (Qs. Al Ahzaab (33) : 36).
11. Anjuran-anjuran Rasulullah untuk Menikah : Rasulullah SAW bersabda: "Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku !"(HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.).
12. Empat macam diantara sunnah-sunnah para Rasul yaitu : berkasih sayang, memakai wewangian, bersiwak dan menikah (HR. Tirmidzi).
13. Dari Aisyah, "Nikahilah olehmu kaum wanita itu, maka sesungguhnya mereka akan mendatangkan harta (rezeki) bagi kamu¡¨ (HR. Hakim dan Abu Dawud). 14. Jika ada manusia belum hidup bersama pasangannya, berarti hidupnya akan timpang dan tidak berjalan sesuai dengan ketetapan Allah SWT dan orang yang menikah berarti melengkapi agamanya, sabda Rasulullah SAW: "Barangsiapa diberi Allah seorang istri yang sholihah, sesungguhnya telah ditolong separoh agamanya. Dan hendaklah bertaqwa kepada Allah separoh lainnya." (HR. Baihaqi).
14. Dari Amr Ibnu As, Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasannya ialah wanita shalihat.(HR. Muslim, Ibnu Majah dan An Nasai).
15. "Tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim) : a. Orang yang berjihad / berperang di jalan Allah. b. Budak yang menebus dirinya dari tuannya. c. Pemuda / i yang menikah karena mau menjauhkan dirinya dari yang haram."
16. "Wahai generasi muda ! Bila diantaramu sudah mampu menikah hendaklah ia nikah, karena mata akan lebih terjaga, kemaluan akan lebih terpelihara." (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas'ud).
17. Kawinlah dengan wanita yang mencintaimu dan yang mampu beranak. Sesungguhnya aku akan membanggakan kamu sebagai umat yang terbanyak (HR. Abu Dawud).
18. Saling menikahlah kamu, saling membuat keturunanlah kamu, dan perbanyaklah (keturunan). Sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya jumlahmu di tengah umat yang lain (HR. Abdurrazak dan Baihaqi).
19. Shalat 2 rakaat yang diamalkan orang yang sudah berkeluarga lebih baik, daripada 70 rakaat yang diamalkan oleh jejaka (atau perawan) (HR. Ibnu Ady dalam kitab Al Kamil dari Abu Hurairah).
20. Rasulullah SAW. bersabda : "Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah" (HR. Bukhari).
21. Diantara kamu semua yang paling buruk adalah yang hidup membujang, dan kematian kamu semua yang paling hina adalah kematian orang yang memilih hidup membujang (HR. Abu Ya¡¦la dan Thabrani).
22. Dari Anas, Rasulullah SAW. pernah bersabda : Barang siapa mau bertemu dengan Allah dalam keadaan bersih lagi suci, maka kawinkanlah dengan perempuan terhormat. (HR. Ibnu Majah,dhaif).
23. Rasulullah SAW bersabda : Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian diantaramu. Sesungguhnya, Allah akan memperbaiki akhlak, meluaskan rezeki, dan menambah keluhuran mereka (Al Hadits).
Tujuan Pernikahan
1. Melaksanakan perintah Allah dan Sunnah Rasul.
2. Melanjutkan generasi muslim sebagai pengemban risalah Islam.
3. Mewujudkan keluarga Muslim menuju masyarakat Muslim.
4. Mendapatkan cinta dan kasih sayang.
5. Ketenangan Jiwa dengan memelihara kehormatan diri (menghindarkan diri dari perbuatan maksiat / perilaku hina lainnya).
6. Agar kaya (sebaik-baik kekayaan adalah isteri yang shalihat).
7. Meluaskan kekerabatan (menyambung tali silaturahmi / menguatkan ikatan kekeluargaan)
Kesiapan Pribadi
1. Kondisi Qalb yang sudah mantap dan makin bertambah yakin setelah istikharah. Rasulullah SAW. bersabda : ¡§Man Jadda Wa Jadda¡¨ (Siapa yang bersungguh-sungguh pasti ia akan berhasil melewati rintangan itu).
2. Termasuk wajib nikah (sulit untuk shaum).
3. Termasuk tathhir (mensucikan diri).
4. Secara materi, Insya Allah siap. ¡§Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya¡¨ (Qs. At Thalaq (65) : 7)
Akibat Menunda atau Mempersulit Pernikahan
* Kerusakan dan kehancuran moral akibat pacaran dan free sex.
* Tertunda lahirnya generasi penerus risalah.
* Tidak tenangnya Ruhani dan perasaan, karena Allah baru memberi ketenangan dan kasih sayang bagi orang yang menikah.
* Menanggung dosa di akhirat kelak, karena tidak dikerjakannya kewajiban menikah saat syarat yang Allah dan RasulNya tetapkan terpenuhi.
* Apalagi sampai bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Rasulullah SAW. bersabda: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia bersunyi sepi berduaan dengan wanita yang tidak didampingi mahramnya, karena yang menjadi pihak ketiganya adalah syaitan." (HR. Ahmad) dan "Sungguh kepala salah seorang diantara kamu ditusuk dengan jarum dari besi lebih baik, daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya" (HR. Thabrani dan Baihaqi).. Astaghfirullahaladzim.. Na'udzubillahi min dzalik
Namun, umumnya yang terjadi di masyarakat di seputar pernikahan adalah sebagai berikut ini :
* Status yang mulia bukan lagi yang taqwa, melainkan gelar yang disandang:Ir, DR, SE, SH, ST, dsb
* Pesta pernikahan yang wah / mahar yang tinggi, sebab merupakan kebanggaan tersendiri, bukan di selenggarakan penuh ketawadhu'an sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. (Pernikahan hendaklah dilandasi semata-mata hanya mencari ridha Allah dan RasulNya. Bukan di campuri dengan harapan ridha dari manusia (sanjungan, tidak enak kata orang). Saya yakin sekali.. bila Allah ridha pada apa yang kita kerjakan, maka kita akan selamat di dunia dan di akhirat kelak.)
* Pernikahan dianggap penghalang untuk menyenangkan orang tua.
* Masyarakat menganggap pernikahan akan merepotkan Studi, padahal justru dengan menikah penglihatan lebih terjaga dari hal-hal yang haram, dan semakin semangat menyelesaikan kuliah.
Memperbaiki Niat :
Innamal a'malu binniyat....... Niat adalah kebangkitan jiwa dan kecenderungan pada apa-apa yang muncul padanya berupa tujuan yang dituntut yang penting baginya, baik secara segera maupun ditangguhkan.
Niat Ketika Memilih Pendamping
Rasulullah bersabda "Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu dibarakahi-Nya, Siapa yang menikahi seorang wanita karena kedudukannya, Allah akan menambahkan kehinaan kepadanya, Siapa yang menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan memberinya kemiskinan, Siapa yang menikahi wanita karena bagus nasabnya, Allah akan menambahkan kerendahan padanya, Namun siapa yang menikah hanya karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah senantiasa memberi barakah dan menambah kebarakahan itu padanya."(HR. Thabrani).
"Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya, mungkin saja kecantikan itu membuatmu hina. Jangan kamu menikahi wanita karena harta / tahtanya mungkin saja harta / tahtanya membuatmu melampaui batas. Akan tetapi nikahilah wanita karena agamanya. Sebab, seorang budak wanita yang shaleh, meskipun buruk wajahnya adalah lebih utama". (HR. Ibnu Majah).
Nabi SAW. bersabda : Janganlah kalian menikahi kerabat dekat, sebab (akibatnya) dapat melahirkan anak yang lemah (baik akal dan fisiknya) (Al Hadits).
Dari Jabir r.a., Sesungguhnya Nabi SAW. telah bersabda, ¡§Sesungguhnya perempuan itu dinikahi orang karena agamanya, kedudukan, hartanya, dan kecantikannya ; maka pilihlah yang beragama." (HR. Muslim dan Tirmidzi). Niat dalam Proses Pernikahan
Masalah niat tak berhenti sampai memilih pendamping. Niat masih terus menyertai berbagai urusan yang berkenaan dengan terjadinya pernikahan. Mulai dari memberi mahar, menebar undangan walimah, menyelenggarakan walimah. Walimah lebih dari dua hari lebih dekat pada mudharat, sedang walimah hari ketiga termasuk riya'. "Berikanlah mahar (mas kawin) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan."(Qs. An Nisaa (4) : 4).
Rasulullah SAW bersabda : "Wanita yang paling agung barakahnya, adalah yang paling ringan maharnya" (HR. Ahmad, Al Hakim, Al Baihaqi dengan sanad yang shahih). Dari Aisyah, bahwasanya Rasulullah SAW. telah bersabda, "Sesungguhnya berkah nikah yang besar ialah yang sederhana belanjanya (maharnya)" (HR. Ahmad). Nabi SAW pernah berjanji : "Jangan mempermahal nilai mahar. Sesungguhnya kalau lelaki itu mulia di dunia dan takwa di sisi Allah, maka Rasulullah sendiri yang akan menjadi wali pernikahannya." (HR. Ashhabus Sunan). Dari Anas, dia berkata : " Abu Thalhah menikahi Ummu Sulaim dengan mahar berupa keIslamannya" (Ditakhrij dari An Nasa'i)..Subhanallah..
Proses pernikahan mempengaruhi niat. Proses pernikahan yang sederhana dan mudah insya Allah akan mendekatkan kepada bersihnya niat, memudahkan proses pernikahan bisa menjernihkan niat. Sedangkan mempersulit proses pernikahan akan mengkotori niat. "Adakanlah perayaan sekalipun hanya memotong seekor kambing." (HR. Bukhari dan Muslim)
Pernikahan haruslah memenuhi kriteria Lillah, Billah, dan Ilallah. Yang dimaksud Lillah, ialah niat nikah itu harus karena Allah. Proses dan caranya harus Billah, sesuai dengan ketentuan dari Allah.. Termasuk didalamnya dalam pemilihan calon, dan proses menuju jenjang pernikahan (bersih dari pacaran / nafsu atau tidak). Terakhir Ilallah, tujuannya dalam rangka menggapai keridhoan Allah.
Sehingga dalam penyelenggaraan nikah tidak bermaksiat pada Allah ; misalnya : adanya pemisahan antara tamu lelaki dan wanita, tidak berlebih-lebihan, tidak makan sambil berdiri (adab makanan dimasyarakat biasanya standing party-ini yang harus di hindari, padahal tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW yang demikian), Pengantin tidak disandingkan, adab mendo'akan pengantin dengan do'a : Barokallahu laka wa baroka 'alaikum wa jama'a baynakuma fii khoir.. (Semoga Allah membarakahi kalian dan melimpahkan barakah kepada kalian), tidak bersalaman dengan lawan jenis, Tidak berhias secara berlebihan ("Dan janganlah bertabarruj (berhias) seperti tabarrujnya jahiliyah yang pertama" - Qs. Al Ahzab (33),
Meraih Pernikahan Ruhani
Jika seseorang sudah dipenuhi dengan kecintaan dan kerinduan pada Allah, maka ia akan berusaha mencari seseorang yang sama dengannya. Secara psikologis, seseorang akan merasa tenang dan tentram jika berdampingan dengan orang yang sama dengannya, baik dalam perasaan, pandangan hidup dan lain sebagainya. Karena itu, berbahagialah seseorang yang dapat merasakan cinta Allah dari pasangan hidupnya, yakni orang yang dalam hatinya Allah hadir secara penuh. Mereka saling mencintai bukan atas nama diri mereka, melainkan atas nama Allah dan untuk Allah.
Betapa indahnya pertemuan dua insan yang saling mencintai dan merindukan Allah. Pernikahan mereka bukanlah semata-mata pertemuan dua insan yang berlainan jenis, melainkan pertemuan dua ruhani yang sedang meniti perjalanan menuju Allah, kekasih yang mereka cintai. Itulah yang dimaksud dengan pernikahan ruhani. KALO KITA BERKUALITAS DI SISI ALLAH, PASTI YANG AKAN DATANG JUGA SEORANG (JODOH UNTUK KITA) YANG BERKUALITAS PULA (Al Izzah 18 / Th. 2)
Penutup
"Hai, orang-orang beriman !! Janganlah kamu mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah kepada kamu dan jangan kamu melampaui batas, karena Allah tidak suka kepada orang-orang yang melampaui batas." (Qs. Al Maidaah (5) : 87).
Karena sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan. Dan sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (Qs. Alam Nasyrah (94) : 5- 6 ).
Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati, saya sayangi dan saya cintai atas nama Allah.. demikanlah proposal ini (secara fitrah) saya tuliskan. Saya sangat berharap Ibunda dan Ayahanda.. memahami keinginan saya. Atas restu dan doa dari Ibunda serta Ayahanda..saya ucapkan "Jazakumullah Khairan katsiira". "Ya Allah, jadikanlah aku ridho terhadap apa-apa yang Engkau tetapkan dan jadikan barokah apa-apa yang telah Engkau takdirkan, sehingga tidak ingin aku menyegerakan apa-apa yang engkau tunda dan menunda apa-apa yang Engkau segerakan.. YA ALLAH BERILAH PAHALA DALAM MUSIBAHKU KALI INI DAN GANTIKAN UNTUKKU YANG LEBIH BAIK DARINYA.. Amiin"
====================================
Dedicated to : My inspiration .... yang pernah singgah dan menghuni "hati" ...Astaghfirullah !! Saat langkah ada didunia maya, tak menapak di bumi-Nya..Lalu, kucoba atur gelombang asa..Robbi kudengar panggilanMu tuk meniti jalan RidhoMu.. Kuharap ada penolong dari hambaMu meneguhkan tapak kakiku di jalan-Mu dan menemani panjangnya jalan dakwah yang harus aku titi.. " Saat Cinta dan Rindu tuk gapai Syurga dan Syahid di jalanNya makin membuncah.."
====================================
Maraji / Referensi :
1. Majalah Ishlah, Edisi Awal Tahun 1995.
2. Fiqh Islam, H. Sulaiman Rasyid, 1994, Cet. 27, Bandung, Sinar Baru Algesindo.
3. Fikih Sunnah 6, Sayyid Sabiq, 1980, cet. 15, Bandung, Pt. Al Ma'arif.
4. Kupinang Engkau dengan Hamdalah, Muhammad Faudzil Adhim, 1998, Yogyakarta, Mitra Pustaka.
5. Indahnya Pernikahan Dini, Muhammad Faudzil Adhim, 2002, Cet. 1, Jakarta, Gema Insani Press.
6. Rintangan Pernikahan dan Pemecahannya, Abdullah Nashih Ulwan, 1997, Cet. 1, Jakarta, Studia Press.
7. Perkawinan Masalah Orang muda, Orang Tua dan Negara, Abdullah Nashih Ulwan, 1996, Cet. 5, Jakarta, Gema Insani Press.
8. Kebebasan Wanita, jilid 1, 5, 6, A.H.A. Syuqqah, 1998, Cet.1, Jakarta, Gema Insani Press
9. Sulitnya Berumah Tangga, Muhammad Utsman Al Khasyt, 1999, Cet. 18, Jakarta, Gema Insani Press.
10. Majalah Cerdas Pemuda Islam Al Izzah, Wahai Pemuda, Menikahlah, No. 17/Th. 2 31 Mei 2001, Jakarta, YPDS Al Mukhtar.
Read More >>
Wanita Suci
Wanita suci,
Mungkin aku memang tak romantis tapi siapa peduli?
Karena toh kau tak mengenalku dan memang tak perlu mengenalku.
Bagiku kau bunga, tak mampu aku samakanmu dengan bunga terindah sekalipun.
Bagiku manusia adalah makhluk yang terindah, tersempurna dan tertinggi.
Bagiku dirimu salah satu dari semua itu, karenanya kau tak membutuhkanpersamaan.
Wanita suci,
Jangan pernah biarkan aku manatapmu penuh, karena akan membuatkumengingatmu.
Berarti memenuhi kepalaku dengan inginkanmu.
Berimbas pada tersusunnya gambarmu dalam tiap dinding khayalku.
Membuatku inginkanmu sepenuh hati, seluruh jiwa, sesemangat mentari.
Kasihanilah dirimu jika harus hadir dalam khayalku yang masih penuh Lumpur.
Karena sesungguhnya dirimu terlalu suci.
Wanita suci,
Berdua menghabiskan waktu denganmu bagaikan mimpi tak berujung.
Ada ingin tapi tak ada henti.
Menyentuhmu merupakan ingin diri, berkelebat selalu, meski ujung penutupmu pun tak berani kusentuh.
Jangan pernah kalah dengan mimpi dan inginku karena sucimu kaupertaruhkan.
Mungkin kau tak peduli
Tapi kau hanya menjadi wanita biasa di hadapanku bila kau kalah.
Dan tak lebih dari wanita biasa.
Wanita suci,
Jangan pernah kautatapku penuh
Bahkan tak perlu kaulirikkan matamu untuk melihatku.
Bukan karena aku terlalu indah, tapi karena aku seorang yang masih kotor.
Aku biasa memakai topeng keindahan pada wajah burukku, mengenakan pakaian sutra emas.
Meniru laku para rahib, meski hatiku lebih kotor dari Lumpur.
Kau memang suci, tapi masih sangat mungkin kau termanipulasi.
Karena kau toh hanya manusia-hanya wanita.
Wanita suci,
Beri sepenuh diri pada dia sang lelaki suci yang dengan sepenuh hati membawamu kehadapan Tuhanmu.
Untuknya dirimu ada, itu kata otakku, terukir dalam kitab suci, tak perlu dipikir lagi.
Tunggu sang lelaki itu menjemputmu, dalam rangkaian khitbah dan akad yang indah.
Atau kejar sang lelaki suci itu, karena itu adalah hakmu, seperti dicontohkan ibunda Khadijah.
Jangan ada ragu, jangan ada malu, semua terukir dalam kitab suci.
Wanita suci
Bariskan harapanmu pada istikharah sepenuh hati ikhlas.
Relakan Allah pilihkan lelaki suci untukmu, mungkin sekarang atau nanti, bahkan mungkin tak ada sampai kau mati.
Mungkin itu berarti dirimu terlalu suci untuk semua lelaki di fana saat ini.
Mungkin lelaki suci itu menanti di istana kekalmu, yang kaubangun dengan segala kekhusyu'an tangis do'amu.
Wanita suci
Pilihan Allah tak selalu seindah inginmu, tapi itu pilihan-Nya.
Tak ada yang lebih baik dari pilihan Allah.
Mungkin kebaikan itu bukan pada lelaki yang terpilih itu, melainkan pada jalan yang kaupilih,
seperti kisah seorang wanita sudi di masa lalu yang meminta ke-Islam-an sebagai mahar pernikahannya.
Atau mungkin kebaikan itu terletak pada keikhlasanmu menerima keputusan Sang Kekasih Tertinggi.
Kekasih tempat kita memberi semua cinta dan menerima cinta
dalam setiap denyut nadi kita. Read More >>
Mungkin aku memang tak romantis tapi siapa peduli?
Karena toh kau tak mengenalku dan memang tak perlu mengenalku.
Bagiku kau bunga, tak mampu aku samakanmu dengan bunga terindah sekalipun.
Bagiku manusia adalah makhluk yang terindah, tersempurna dan tertinggi.
Bagiku dirimu salah satu dari semua itu, karenanya kau tak membutuhkanpersamaan.
Wanita suci,
Jangan pernah biarkan aku manatapmu penuh, karena akan membuatkumengingatmu.
Berarti memenuhi kepalaku dengan inginkanmu.
Berimbas pada tersusunnya gambarmu dalam tiap dinding khayalku.
Membuatku inginkanmu sepenuh hati, seluruh jiwa, sesemangat mentari.
Kasihanilah dirimu jika harus hadir dalam khayalku yang masih penuh Lumpur.
Karena sesungguhnya dirimu terlalu suci.
Wanita suci,
Berdua menghabiskan waktu denganmu bagaikan mimpi tak berujung.
Ada ingin tapi tak ada henti.
Menyentuhmu merupakan ingin diri, berkelebat selalu, meski ujung penutupmu pun tak berani kusentuh.
Jangan pernah kalah dengan mimpi dan inginku karena sucimu kaupertaruhkan.
Mungkin kau tak peduli
Tapi kau hanya menjadi wanita biasa di hadapanku bila kau kalah.
Dan tak lebih dari wanita biasa.
Wanita suci,
Jangan pernah kautatapku penuh
Bahkan tak perlu kaulirikkan matamu untuk melihatku.
Bukan karena aku terlalu indah, tapi karena aku seorang yang masih kotor.
Aku biasa memakai topeng keindahan pada wajah burukku, mengenakan pakaian sutra emas.
Meniru laku para rahib, meski hatiku lebih kotor dari Lumpur.
Kau memang suci, tapi masih sangat mungkin kau termanipulasi.
Karena kau toh hanya manusia-hanya wanita.
Wanita suci,
Beri sepenuh diri pada dia sang lelaki suci yang dengan sepenuh hati membawamu kehadapan Tuhanmu.
Untuknya dirimu ada, itu kata otakku, terukir dalam kitab suci, tak perlu dipikir lagi.
Tunggu sang lelaki itu menjemputmu, dalam rangkaian khitbah dan akad yang indah.
Atau kejar sang lelaki suci itu, karena itu adalah hakmu, seperti dicontohkan ibunda Khadijah.
Jangan ada ragu, jangan ada malu, semua terukir dalam kitab suci.
Wanita suci
Bariskan harapanmu pada istikharah sepenuh hati ikhlas.
Relakan Allah pilihkan lelaki suci untukmu, mungkin sekarang atau nanti, bahkan mungkin tak ada sampai kau mati.
Mungkin itu berarti dirimu terlalu suci untuk semua lelaki di fana saat ini.
Mungkin lelaki suci itu menanti di istana kekalmu, yang kaubangun dengan segala kekhusyu'an tangis do'amu.
Wanita suci
Pilihan Allah tak selalu seindah inginmu, tapi itu pilihan-Nya.
Tak ada yang lebih baik dari pilihan Allah.
Mungkin kebaikan itu bukan pada lelaki yang terpilih itu, melainkan pada jalan yang kaupilih,
seperti kisah seorang wanita sudi di masa lalu yang meminta ke-Islam-an sebagai mahar pernikahannya.
Atau mungkin kebaikan itu terletak pada keikhlasanmu menerima keputusan Sang Kekasih Tertinggi.
Kekasih tempat kita memberi semua cinta dan menerima cinta
dalam setiap denyut nadi kita. Read More >>
Inzinkan selamanya namamu dihati
Sekian lama tak kudengar
suaramu kekasih
Dapat aku rasakan bahangnya perpisahan
yang memenjarakan cinta kita
walaupun tidak kau nyatakan
tapi dapat kau rasakan
perubahan dirimu
semenjak engkau mengenali dia
tidak ku tahu mengapa engkau
menghukumku sedemikian
tanpa memberika kesempatan
mempertahankan cintaku
tak ku sangka begitu
singkatnya cinta kita
seandainya ku tahu
lupakan saja
izinkan selamanya namamu dihati
biarakan saelamanya kubegini.
Read More >>
suaramu kekasih
Dapat aku rasakan bahangnya perpisahan
yang memenjarakan cinta kita
walaupun tidak kau nyatakan
tapi dapat kau rasakan
perubahan dirimu
semenjak engkau mengenali dia
tidak ku tahu mengapa engkau
menghukumku sedemikian
tanpa memberika kesempatan
mempertahankan cintaku
tak ku sangka begitu
singkatnya cinta kita
seandainya ku tahu
lupakan saja
izinkan selamanya namamu dihati
biarakan saelamanya kubegini.
Read More >>
Asmara Antar Aktivis(2)
Pencegahan
Dosa kecil akan berubah menjadi dosa besar ketika :
(1) dianggap enteng
(2) dilakukan berulang-ulang tanpa rasa bersalah
(3) dilakukan sering sehingga menggunung.
(4) diwariskan sebagai sunnah sayyi’ah (kebiasaan buruk yang diteladani orang lain).
Mungkin bagi kita masalah 3A ini tidak begitu penting, bila dibandingkan dengan masalah lain seperti pembinaan, rekrutmen, syiar, pemenangan pemilu dsb.
Namun terkadang orang jatuh bukan karena batu besar, namun karena kerikil kecil. Masalah kecil inilah yang kemudian bisa merobohkan bangunan dakwah ini yang sudah sekian tahun kita bina. Oleh karena itu, tampaknya kita harus mulai menanggapi isu ini secara serius. Adapun beberapa langkah preventif hasil diskusi saya dengan beberapa orang
1. Perkuat aqidah
Yaitu dengan cara mengembalikan proses tarbiyah kepada manhaj, yaitu menguatkan pemahaman aqidah, syariah dan akhlak pada tahap awal sebelum masuk kepada pemahaman tentang dakwah dan siyasah. Bukan malah memporakporandakan manhaj seenaknya dengan alasan kebutuhan lapangan, Karena perlu diingat bahwa pembinaan yang dilakukan bukan hanya untuk kebutuhan kampus saja, namun juga untuk kebutuhan jangka panjang dakwah mereka.
2. Hindari menempatkan ikhwan-akhwat dalam satu amanah yang sama dalam waktu yang relatif lama.
“ witing tresno jalaran soko kulino “, cinta itu muncul karena seringnya berinteraksi. Peribahasa jawa kuno ini tampaknya sangat relevan dengan kondisi saat ini. Buktinya dari sekian banyak kasus 3A saat ini, 80% adalah mereka yang satu amanah dalam waktu yang lama. Untuk menghindari ini, salahsatu contohnya, majelis ta’lim salman ITB, membuat kebijakan untuk meniadakan korwat pada setiap divisi dan kepanitiaan, untuk menghindari fitnah.
3. Hindari berkhalwat “gaya baru”
Sudah sangat jelas bahwa berkhalwat adalah sebuah perilaku yang dilarang oleh Allah SWT. Semua ADK sudah tau dan faham akan hal itu. Namun pemahaman yang dangkal terkait “khalwat” sering menjebak para ADK. Secara sederhana, khalwat didefinisikan ada 2, pertama berdua-duan dengan lawan jenis di tempat sepi, ini sudah cukup jelas. Kedua, berkomunikasi berdua tanpa ada orang ketiga yang tau, walaupun di tempat ramai. Definisi kedua inilah yang sering tidak disadari oleh ADK. Mereka tidak sadar bahwa SMSan, chatingan, FBan dll yang tidak diketahui oleh orang ketiga berpotensi berkhalwat. Inilah yang disebut berkhalwat gaya baru. Dan semua kasus 3A yang pernah saya temui, berawal dan berlanjut melalui sarana tersebut.
4. Sebaiknya ikhwan mempelajari psikologi akhawat dan sebaliknya
“ jika anda ingin menangkap singa, maka berfikirlah seperti singa “, ini adalah prinsip para pemburu. Sama halnya ketika kita ingin menangkap ( maaf ) wanita, maka pelajarilah cara berfikir mereka. Sebaliknya, jika anda tidak ingin “menangkap dan tertangkap” wanita, maka berfikirlah seperti mereka. Terutama untuk akhwat, jangan pernah cepat merasa GR. Kalaupun merasa mendapatkan perhatian yang agak lebih, tanamkan dalam hati bahwa hal/perhatian dari ikhwan tersebut juga dilakukan oleh ikhwan tersebut ke semua orang termasuk akhwat-akhwat lain.
5. Jaga pandangan
”Katakanlah kepada orang-orang mukmim untuk menjaga pandangan mata mereka dan menjaga kemaluan mereka…” ( QS An Nuur 30 )
kenapa Allah kemudian Rasul-Nya mengingatkan manusia untuk senantiasa menjaga pandangan mereka? Allan dan Barbara dalam bukunya, why men don’t listen and women can’t read maps, pada sebuah penelitian mengatakan bahwa laki-laki tergoda melalui matanya dan wanita tergoda melalui pendengarannya. Dalam sebuah ungkapan juga disebutkan bahwa “ pada mata laki-laki ada serigala, dan pada mata perempuan ada sihir yang mampu merubah laki-laki menjadi serigala “. demikianlah dasyatnya pandangan mata baik dilihat dari sudut pandang Agama, ilmiah, sosiologi, maupun psikologi.
“Dia mengetahui pengkhianatan mata dan apa yang disembunyikan di dalam hati.” (QS Gafir 19)
6. Perkokoh ukhuwah
Mungkin ada banyak hal terkait kondisi internal masing-masing individu yang bisa menimbulkan virus tersebut. Tetapi juga, faktor lingkungan bisa menjadi faktor lain yang bisa sangat berpengaruh kepada tiap-tiap individu. Sehingga, kekuatan ukhuwah antar ADK bisa menjadi jalan perbaikan kondisi ada saat ini.
a. Sesama jender
Jadilah lebih dari sekadar sahabat bagi ADK lainnya, jadilah betul-betul saudara bagi ADK lainnya. Jadilah menjadi yang pertama bisa menjadi tumpuan bagi saudara kita agar tidak perlu mencari ‘tumpuan’ lainnya yang tidak seharusnya. Karena bisa jadi saudara kita terjebak dengan virus tersebut karena lalainya kita sebagai seorang saudara untuk memberikan hak-hak saudara kita. Lantas bagaimanakah pemaknaan kita terhadap hadits Rasulullah SAW,
“Dari nu’man ibnu Basyir berkata: Rasululllah bersabda: Perumpamaan orang-orang mu’min di dalam cinta mencintai, kasih mengasihi, dan berlemah lembut ibarat satu tubuh bila sebagian anggota badan menderita sakit, niscaya dirasakan oleh seluruh tubuh dengan tidak bisa tidur atau demam” (HR.Bukhari dan Muslim)
Ketika kedekatan sudah sedemikian erat, maka nasihat ataupun bentuk teguran dari sesama sauadara biasanya menjadi lebih mudah bisa diterima. Sehingga, jika sudah mulai ada yang terasa melenceng akan mudah untuk diluruskan kembali sebelum dampak yang lebih fatal terjadi. Dan juga kesalahan yang pernah dilakukan dijadikan pembelajaran penting untuk tidak dilakukan kembali di masa yang akan datang.
“Dari Abu Hurairah r.a dari nabi SAW bersabda: Tidaklah seorang mukmin akan dijerumuskan ke dalam satu lubang dua kali.”(HR. muslim)
b. Lintas jender
Ketika ukhuwah diantara kita sudah sedemikian erat, maka kita tidak akan rela ‘mengganggu’ saudara kita sendiri. Apakah mungkin kita rela untuk mengganggu keikhlasan saudara kita hanya karena diri kita yang fana’ ini? Apakah kita rela menghambat pembelajaran bagi saudara kita yang terpaksa ‘dipindahtugaskan’ karena ketidakmampuan kita mengelola hati?
Lebih utama untuk bersikap tegas dan seperlunya dibandingkan berupaya ‘ramah’ namun disalahartikan
7. Baca dan gali ilmu dari sumber terpercaya
Mari kita pelajari bagaimana sikap yang seharusnya seperti yang telah Allah firmankan di dalam Al Qur’an, dan juga sesuai dengan bagaimana yang telah Rasulullah sampaikan di dalam haditsnya. Kita coba renungi lagi sifat kehati-hatian dari para shahabat dan shahabiyah terhadap perbuatan dosa.
Sebaiknya kita tidak termakan dengan penjelasan media yang tidak semuanya bisa kita percaya. Tidak sedikit sumber yang memutarbalikkan penjelasan yang membuat seolah pacaran sebelum ijab qabul adalah hal yang diperbolehkan dalam Islam. Belum lagi terpaan dari JIL yang mencampuradukkan beragam pemikiran. Sehingga, pandai-pandailah memilih informasi agar kita tidak terjebak dalam arus informasi yang semakin tidak terkontrol saat ini. Sehingga kita tidak terjebak dengan mencari pembenaran atas kesalahan yang kita lakukan.
Read More >>
Dosa kecil akan berubah menjadi dosa besar ketika :
(1) dianggap enteng
(2) dilakukan berulang-ulang tanpa rasa bersalah
(3) dilakukan sering sehingga menggunung.
(4) diwariskan sebagai sunnah sayyi’ah (kebiasaan buruk yang diteladani orang lain).
Mungkin bagi kita masalah 3A ini tidak begitu penting, bila dibandingkan dengan masalah lain seperti pembinaan, rekrutmen, syiar, pemenangan pemilu dsb.
Namun terkadang orang jatuh bukan karena batu besar, namun karena kerikil kecil. Masalah kecil inilah yang kemudian bisa merobohkan bangunan dakwah ini yang sudah sekian tahun kita bina. Oleh karena itu, tampaknya kita harus mulai menanggapi isu ini secara serius. Adapun beberapa langkah preventif hasil diskusi saya dengan beberapa orang
1. Perkuat aqidah
Yaitu dengan cara mengembalikan proses tarbiyah kepada manhaj, yaitu menguatkan pemahaman aqidah, syariah dan akhlak pada tahap awal sebelum masuk kepada pemahaman tentang dakwah dan siyasah. Bukan malah memporakporandakan manhaj seenaknya dengan alasan kebutuhan lapangan, Karena perlu diingat bahwa pembinaan yang dilakukan bukan hanya untuk kebutuhan kampus saja, namun juga untuk kebutuhan jangka panjang dakwah mereka.
2. Hindari menempatkan ikhwan-akhwat dalam satu amanah yang sama dalam waktu yang relatif lama.
“ witing tresno jalaran soko kulino “, cinta itu muncul karena seringnya berinteraksi. Peribahasa jawa kuno ini tampaknya sangat relevan dengan kondisi saat ini. Buktinya dari sekian banyak kasus 3A saat ini, 80% adalah mereka yang satu amanah dalam waktu yang lama. Untuk menghindari ini, salahsatu contohnya, majelis ta’lim salman ITB, membuat kebijakan untuk meniadakan korwat pada setiap divisi dan kepanitiaan, untuk menghindari fitnah.
3. Hindari berkhalwat “gaya baru”
Sudah sangat jelas bahwa berkhalwat adalah sebuah perilaku yang dilarang oleh Allah SWT. Semua ADK sudah tau dan faham akan hal itu. Namun pemahaman yang dangkal terkait “khalwat” sering menjebak para ADK. Secara sederhana, khalwat didefinisikan ada 2, pertama berdua-duan dengan lawan jenis di tempat sepi, ini sudah cukup jelas. Kedua, berkomunikasi berdua tanpa ada orang ketiga yang tau, walaupun di tempat ramai. Definisi kedua inilah yang sering tidak disadari oleh ADK. Mereka tidak sadar bahwa SMSan, chatingan, FBan dll yang tidak diketahui oleh orang ketiga berpotensi berkhalwat. Inilah yang disebut berkhalwat gaya baru. Dan semua kasus 3A yang pernah saya temui, berawal dan berlanjut melalui sarana tersebut.
4. Sebaiknya ikhwan mempelajari psikologi akhawat dan sebaliknya
“ jika anda ingin menangkap singa, maka berfikirlah seperti singa “, ini adalah prinsip para pemburu. Sama halnya ketika kita ingin menangkap ( maaf ) wanita, maka pelajarilah cara berfikir mereka. Sebaliknya, jika anda tidak ingin “menangkap dan tertangkap” wanita, maka berfikirlah seperti mereka. Terutama untuk akhwat, jangan pernah cepat merasa GR. Kalaupun merasa mendapatkan perhatian yang agak lebih, tanamkan dalam hati bahwa hal/perhatian dari ikhwan tersebut juga dilakukan oleh ikhwan tersebut ke semua orang termasuk akhwat-akhwat lain.
5. Jaga pandangan
”Katakanlah kepada orang-orang mukmim untuk menjaga pandangan mata mereka dan menjaga kemaluan mereka…” ( QS An Nuur 30 )
kenapa Allah kemudian Rasul-Nya mengingatkan manusia untuk senantiasa menjaga pandangan mereka? Allan dan Barbara dalam bukunya, why men don’t listen and women can’t read maps, pada sebuah penelitian mengatakan bahwa laki-laki tergoda melalui matanya dan wanita tergoda melalui pendengarannya. Dalam sebuah ungkapan juga disebutkan bahwa “ pada mata laki-laki ada serigala, dan pada mata perempuan ada sihir yang mampu merubah laki-laki menjadi serigala “. demikianlah dasyatnya pandangan mata baik dilihat dari sudut pandang Agama, ilmiah, sosiologi, maupun psikologi.
“Dia mengetahui pengkhianatan mata dan apa yang disembunyikan di dalam hati.” (QS Gafir 19)
6. Perkokoh ukhuwah
Mungkin ada banyak hal terkait kondisi internal masing-masing individu yang bisa menimbulkan virus tersebut. Tetapi juga, faktor lingkungan bisa menjadi faktor lain yang bisa sangat berpengaruh kepada tiap-tiap individu. Sehingga, kekuatan ukhuwah antar ADK bisa menjadi jalan perbaikan kondisi ada saat ini.
a. Sesama jender
Jadilah lebih dari sekadar sahabat bagi ADK lainnya, jadilah betul-betul saudara bagi ADK lainnya. Jadilah menjadi yang pertama bisa menjadi tumpuan bagi saudara kita agar tidak perlu mencari ‘tumpuan’ lainnya yang tidak seharusnya. Karena bisa jadi saudara kita terjebak dengan virus tersebut karena lalainya kita sebagai seorang saudara untuk memberikan hak-hak saudara kita. Lantas bagaimanakah pemaknaan kita terhadap hadits Rasulullah SAW,
“Dari nu’man ibnu Basyir berkata: Rasululllah bersabda: Perumpamaan orang-orang mu’min di dalam cinta mencintai, kasih mengasihi, dan berlemah lembut ibarat satu tubuh bila sebagian anggota badan menderita sakit, niscaya dirasakan oleh seluruh tubuh dengan tidak bisa tidur atau demam” (HR.Bukhari dan Muslim)
Ketika kedekatan sudah sedemikian erat, maka nasihat ataupun bentuk teguran dari sesama sauadara biasanya menjadi lebih mudah bisa diterima. Sehingga, jika sudah mulai ada yang terasa melenceng akan mudah untuk diluruskan kembali sebelum dampak yang lebih fatal terjadi. Dan juga kesalahan yang pernah dilakukan dijadikan pembelajaran penting untuk tidak dilakukan kembali di masa yang akan datang.
“Dari Abu Hurairah r.a dari nabi SAW bersabda: Tidaklah seorang mukmin akan dijerumuskan ke dalam satu lubang dua kali.”(HR. muslim)
b. Lintas jender
Ketika ukhuwah diantara kita sudah sedemikian erat, maka kita tidak akan rela ‘mengganggu’ saudara kita sendiri. Apakah mungkin kita rela untuk mengganggu keikhlasan saudara kita hanya karena diri kita yang fana’ ini? Apakah kita rela menghambat pembelajaran bagi saudara kita yang terpaksa ‘dipindahtugaskan’ karena ketidakmampuan kita mengelola hati?
Lebih utama untuk bersikap tegas dan seperlunya dibandingkan berupaya ‘ramah’ namun disalahartikan
7. Baca dan gali ilmu dari sumber terpercaya
Mari kita pelajari bagaimana sikap yang seharusnya seperti yang telah Allah firmankan di dalam Al Qur’an, dan juga sesuai dengan bagaimana yang telah Rasulullah sampaikan di dalam haditsnya. Kita coba renungi lagi sifat kehati-hatian dari para shahabat dan shahabiyah terhadap perbuatan dosa.
Sebaiknya kita tidak termakan dengan penjelasan media yang tidak semuanya bisa kita percaya. Tidak sedikit sumber yang memutarbalikkan penjelasan yang membuat seolah pacaran sebelum ijab qabul adalah hal yang diperbolehkan dalam Islam. Belum lagi terpaan dari JIL yang mencampuradukkan beragam pemikiran. Sehingga, pandai-pandailah memilih informasi agar kita tidak terjebak dalam arus informasi yang semakin tidak terkontrol saat ini. Sehingga kita tidak terjebak dengan mencari pembenaran atas kesalahan yang kita lakukan.
Read More >>
Asmara Antar Aktivis
Besar kecilnya sebuah masalah sebenarnya tergantung dari besar kecilnya kapasitas diri kita. beban yang berat akan terasa kecil, jika kita memiliki ‘pundak’ yang kuat. Dengan janji Allah bahwa Ia tidak akan memberikan beban melebihi kemampuan kita, maka sudah seharusnya tiap beban bisa kita atasi. Sedangkan beban yang terasa berat sebenarnya bukan karena Allah memberikan beban yang tidak sanggup kita pikul, melainkan karena kita kurang menguatkan diri kita.
Demikian juga dengan masalah ini, yang disebut virus asmara antar ADK atau juga sering disebut VMJ. Virus ini bukan cuman ada akhir2 ini saja, namun juga sejak dulu virus ini sudah ada. Hanya saja ada perbedaan fenomena dan perbedaan penyikapan. Di jaman dulu, mungkin masalah ini tidak terlalu menjadi masalah karena dianggap msalah yang sangat kecil, bukan karena msalahnya yang kecil, tp karena ‘pundak’ yang terlalu kuat.
Mungkin sudah banyak buku2, artikel, dan referensi lainnya yang membahas masalah ini. namun entah kenapa masalah seperti ini masih menjamur, bahkan semakin menjamur. Bukan karena kekurangan obat, namun karena si pesakitan enggan meminum obat, mungkin karena ia tidak tahu bahwa ia sedang sakit, atau mungkin karena ia menikmati sakitnya itu.
Namun belakangan,masalah ini sudah “melebihi ambang batas toleransi”. Oleh karena itulah, perlu adanya upaya nyata untuk mengatasi masalah ini, dengan adanya tulisan ini.
Definisi
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah memberikan ada 60 definisi untuk cinta. Dan apabila aku bertanya kepada 10 orang tentang definisi cinta, pasti akupun akan menemukan 10 definisi yang berbeda. Kata seorang penyair, semakin kita mendefinisikan cinta, maka kita akan semakin tidak menemukannya, karena definisi cinta adalah cinta itu sendiri. Jika pendefinisian adalah cara untuk menerangkan kepada orang lain tentang suatu hal, lalu apa gunanya aku mendefinisikan kata cinta, karena pastilah setiap orang sudah tau dan pernah merasakannya.
Pada Tahun 2000, Professor Semin Zeki dan Andrew Bertela di universitas College London, melakukan eksperimen dengan menscan otak dari 11 orang wanita dan 6 orang sukarelawan yang semuanya mengaku sebagai seorang yang sedang ‘jatuh cinta setengah mati’ dan telah jatuh cinta selama 6-12 bulan. Mereka diperlihatkan foto kekasih mereka. Para ilmuwan menemukan bahwa dengan diperlihatkan foto kekasihnya dapat mengaktifkan 4 area khusus dalam otak. Dua area terletak di cerebral cortex, bagian otak lebih ke depan. Area itu adalah medial insula, yang diduga sebagai area yang bertanggung-jawab terhadap perasaan berani; dan bagian interior ( cingulate ) yang dikenal sebagai area yang bereaksi terhadap obat-obat yang memabukkan. Dua bagian lainnya terletak agak ke dalam dan bagian otak yang lebih primitive basal ( ganglin ) yang memainkan fungsi sebagai fungsi kecanduan. Dengan demikian, secara ilmiah, definisi cinta berhubungan dengan sifat ‘berani’, ‘mabuk’ dan ‘kecanduan’.
Namun karena tipisnya perbedaan antara cinta dan syahwat, seringkali manusia terjebak di dalamnya. Cinta itu anugerah Allah, sedangkan syahwat adalah datangnya dari syetan. Cinta hanya ada diatas pernikahan, sedangkan di luar pernikahan itu syahwat, kecuali hanya sekedar suka tanpa terobsesi ( ust Ari Yanuar ). Untuk membedakan antara cinta dan syahwat, Allah berfirman,
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” ( QS Ali Imran 14 ).
Pada Surat Al Baqarah : 65.. “Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman mereka sangat cintanya kepada Allah..”.
Singkatnya, cinta adalah mencintai apa-apa yang dicintai oleh Allah, sedangkan syahwat adalah cinta yang berujung fitnah ( Ibnu katsir, fitnah = sesuatu yang membuat kita jauh dari Allah SWT ).
Lalu bagaimana supaya cinta kita tidak berujung pada fitnah ? seperti yang sudah disampaikan di atas bahwa kecenderungan antara ikhwan dan akhowat itu adalah fitrah dan sah-sah saja bahkan tidak perlu dihilangkan. Tentu saja dengan syarat cinta itu tidak berujung pada: 1) tidak merusak amal kita, yaitu menghilangkan keikhlasan kita dalam beramal ( syarat diterimanya amal adalah ikhlas dan ihsan ); dan 2) tidak mendorong kita untuk bermaksiat ( berkhalwat, zina dll ). Sebagaimana cintanya antara Ali ra dan Fatimah, sebagaimana cintanya Salman Al Farisi kepada seorang wanita anshar, dan kisah cinta suci yang lainnya.
Bahaya virus 3A
Abu Muslim Al-Khaulani berkata, “ wahai seluruh penduduk khaulan, nikahkanlah pemuda-pemudi kalian dan budak-budak kalian, karena birahi yang berkobar itu adalah masalah yang gawat. Maka buatlah persiapan untuk urusan itu…”. Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa cinta erat hubungannya dengan keberanian, mabuk kepayang dan kecanduan, jika ketiga hal itu tidak bisa dibendung, maka akan sangat berbahaya. Adapun dampak yang diakibatkan oleh virus 3A ini adalah,
Bagi pribadi:
1. Merusak amal, syarat diterimanya amal adalah ikhlas dan ihsan
2. Berujung zina. Dari mulai zina dalam bentuk berkhalwat sampai zina dalam bentuk persetubuhan. ( naudzubillah )
3. Merana, apabila cintanya tidak kunjung berujung pada pernikahan, atau bahkan patah hati
Bagi jama’ah dakwah :
1. Hilangnya keberkahan dakwah, bisa juga berujung pada kekalahan hanya karena satu dua orang anggota jama’ah dakwah yang tidak ikhlas. Sebagai contoh tergodanya pasukan pemanah pada perang uhud pada duniawi sehingga Allah memberikan kekalahan.
2. Rusaknya image jama’ah. Hal ini akan berakibat pada lunturnya kepercayaan mad’u pada jama’ah. Dan akan berujung pada menurunnya vertilitas dakwah.
3. Merusak militansi. Mereka yang terkena virus ini hanya semangatnya sangat dipengaruhi oleh orang yang dicintainya. Bersemangat jika ada dia, begitu juga sebaliknya.
4. Mengotori ikhwah yang lain. Lunturnya iman sama dengan lunturnya warna baju dalam cucian. Keindahan warnanya jika luntur akan berubah menjadi keburukan bagi yang lainnya. Demikian pula dengan virus ini, penyakit ini bisa menular terutama kepada junior-junior aktivis dakwah.
Solusi
1. Kuatkan kembali aqidah
Takut kehilangan orang yang dicintai oleh hati, takut tidak dapat jodoh, tergoda mencintai sesuatu selain Allah, dan hal lainnya sebagai gejala virus 3A ini sebenarnya adalah masalah aqidah.
Dengan mudah mereka mengatakan, “ aku sangat mencintainya, aku tidak mau kehilangan dia “. Sesungguhnya mereka tidak meyakini bahwa Allah lah pemilik hati, Sang pembolak-balik, termasuk Sang pemberi cinta dalam hati.
Dengan mudah mereka mengatakan, “ aku takut tidak mendapatkan jodoh yang aku cintai, aku harus segera mencarinya dengan terlebih dahulu melakukan pendekatan-pendekatan “, bahwasannya mereka tidak yakin bahwa umur, rejeki, ilmu dan jodoh itu ada di tangan Allah.
Maka solusi mendasar dari masalah ini adalah dengan membenahi aqidah, yaitu dengan memperbaiki proses tarbiyah, mengembalikan alur pembinaan kepada manhaj yang lurus tidak tergesa-gesa dan tentunya didukung oleh para murobby yang memiliki kapasitas sebagai da’I yang menyampaikan dengan hikmah, maudhatil hasanah, wa jadilhum bil lisan.
2. Solusi praktis
Setidaknya sudah ada 3 solusi yang telah diajarkan Rasulullah SAW,
a.Nikahkan
“Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia kawin, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu hendaknya berpuasa, sebab ia dapat mengendalikanmu.” (HR Muttafaq Alaihi ).
Dari Abu Hurairah ra , Rasulullah SAW bersabda : “ Ada tiga orang yang wajib bagi Allah menolongnya : orang yang berjihad di jalan Allah, budak ‘Mukatib’ yang ingin membayar pembebasannya, dan seorang yang ingin menikah untuk menjaga dirinya “ (HR Tirmidzi)
b. Jauhkan
Telah jelas pada hadits di atas jika apabila tidak mampu menikah maka berpuasa, karena ia bisa mengendalikan diri kita. Cukup jelas bahwa maksud dari berpuasa bukanlah hanya sekedar menaham makan dan minum tapi juga menahan diri kita untuk mendekati fitnah dan berbuat maksiat. Oleh karena itu selain puasa, supaya tidak terjadi fitnah, maka suspect perlu dipisahkan dari orang yang dicintainya. Dengan demikian akan terjaga hati dan sikapnya. Dijauhkan disini bukan berarti dilarang untuk jatuh cinta, bahkan boleh saja jika cinta itu terus dipupuk dengan berdoa kepada Allah agar berakhir bahagia. Sekali lagi, yang menjadi haram adalah ketika cinta itu berujung pada 2 hal yang telah dijelaskan di atas.
c. Nikahkan salahsatu dengan yang lain
Patahkan hatinya, ini akan menguji apakah cinta dia karena Allah atau karena syahwat. Untuk menghindari gossip juga.
Read More >>
Demikian juga dengan masalah ini, yang disebut virus asmara antar ADK atau juga sering disebut VMJ. Virus ini bukan cuman ada akhir2 ini saja, namun juga sejak dulu virus ini sudah ada. Hanya saja ada perbedaan fenomena dan perbedaan penyikapan. Di jaman dulu, mungkin masalah ini tidak terlalu menjadi masalah karena dianggap msalah yang sangat kecil, bukan karena msalahnya yang kecil, tp karena ‘pundak’ yang terlalu kuat.
Mungkin sudah banyak buku2, artikel, dan referensi lainnya yang membahas masalah ini. namun entah kenapa masalah seperti ini masih menjamur, bahkan semakin menjamur. Bukan karena kekurangan obat, namun karena si pesakitan enggan meminum obat, mungkin karena ia tidak tahu bahwa ia sedang sakit, atau mungkin karena ia menikmati sakitnya itu.
Namun belakangan,masalah ini sudah “melebihi ambang batas toleransi”. Oleh karena itulah, perlu adanya upaya nyata untuk mengatasi masalah ini, dengan adanya tulisan ini.
Definisi
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah memberikan ada 60 definisi untuk cinta. Dan apabila aku bertanya kepada 10 orang tentang definisi cinta, pasti akupun akan menemukan 10 definisi yang berbeda. Kata seorang penyair, semakin kita mendefinisikan cinta, maka kita akan semakin tidak menemukannya, karena definisi cinta adalah cinta itu sendiri. Jika pendefinisian adalah cara untuk menerangkan kepada orang lain tentang suatu hal, lalu apa gunanya aku mendefinisikan kata cinta, karena pastilah setiap orang sudah tau dan pernah merasakannya.
Pada Tahun 2000, Professor Semin Zeki dan Andrew Bertela di universitas College London, melakukan eksperimen dengan menscan otak dari 11 orang wanita dan 6 orang sukarelawan yang semuanya mengaku sebagai seorang yang sedang ‘jatuh cinta setengah mati’ dan telah jatuh cinta selama 6-12 bulan. Mereka diperlihatkan foto kekasih mereka. Para ilmuwan menemukan bahwa dengan diperlihatkan foto kekasihnya dapat mengaktifkan 4 area khusus dalam otak. Dua area terletak di cerebral cortex, bagian otak lebih ke depan. Area itu adalah medial insula, yang diduga sebagai area yang bertanggung-jawab terhadap perasaan berani; dan bagian interior ( cingulate ) yang dikenal sebagai area yang bereaksi terhadap obat-obat yang memabukkan. Dua bagian lainnya terletak agak ke dalam dan bagian otak yang lebih primitive basal ( ganglin ) yang memainkan fungsi sebagai fungsi kecanduan. Dengan demikian, secara ilmiah, definisi cinta berhubungan dengan sifat ‘berani’, ‘mabuk’ dan ‘kecanduan’.
Namun karena tipisnya perbedaan antara cinta dan syahwat, seringkali manusia terjebak di dalamnya. Cinta itu anugerah Allah, sedangkan syahwat adalah datangnya dari syetan. Cinta hanya ada diatas pernikahan, sedangkan di luar pernikahan itu syahwat, kecuali hanya sekedar suka tanpa terobsesi ( ust Ari Yanuar ). Untuk membedakan antara cinta dan syahwat, Allah berfirman,
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” ( QS Ali Imran 14 ).
Pada Surat Al Baqarah : 65.. “Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman mereka sangat cintanya kepada Allah..”.
Singkatnya, cinta adalah mencintai apa-apa yang dicintai oleh Allah, sedangkan syahwat adalah cinta yang berujung fitnah ( Ibnu katsir, fitnah = sesuatu yang membuat kita jauh dari Allah SWT ).
Lalu bagaimana supaya cinta kita tidak berujung pada fitnah ? seperti yang sudah disampaikan di atas bahwa kecenderungan antara ikhwan dan akhowat itu adalah fitrah dan sah-sah saja bahkan tidak perlu dihilangkan. Tentu saja dengan syarat cinta itu tidak berujung pada: 1) tidak merusak amal kita, yaitu menghilangkan keikhlasan kita dalam beramal ( syarat diterimanya amal adalah ikhlas dan ihsan ); dan 2) tidak mendorong kita untuk bermaksiat ( berkhalwat, zina dll ). Sebagaimana cintanya antara Ali ra dan Fatimah, sebagaimana cintanya Salman Al Farisi kepada seorang wanita anshar, dan kisah cinta suci yang lainnya.
Bahaya virus 3A
Abu Muslim Al-Khaulani berkata, “ wahai seluruh penduduk khaulan, nikahkanlah pemuda-pemudi kalian dan budak-budak kalian, karena birahi yang berkobar itu adalah masalah yang gawat. Maka buatlah persiapan untuk urusan itu…”. Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa cinta erat hubungannya dengan keberanian, mabuk kepayang dan kecanduan, jika ketiga hal itu tidak bisa dibendung, maka akan sangat berbahaya. Adapun dampak yang diakibatkan oleh virus 3A ini adalah,
Bagi pribadi:
1. Merusak amal, syarat diterimanya amal adalah ikhlas dan ihsan
2. Berujung zina. Dari mulai zina dalam bentuk berkhalwat sampai zina dalam bentuk persetubuhan. ( naudzubillah )
3. Merana, apabila cintanya tidak kunjung berujung pada pernikahan, atau bahkan patah hati
Bagi jama’ah dakwah :
1. Hilangnya keberkahan dakwah, bisa juga berujung pada kekalahan hanya karena satu dua orang anggota jama’ah dakwah yang tidak ikhlas. Sebagai contoh tergodanya pasukan pemanah pada perang uhud pada duniawi sehingga Allah memberikan kekalahan.
2. Rusaknya image jama’ah. Hal ini akan berakibat pada lunturnya kepercayaan mad’u pada jama’ah. Dan akan berujung pada menurunnya vertilitas dakwah.
3. Merusak militansi. Mereka yang terkena virus ini hanya semangatnya sangat dipengaruhi oleh orang yang dicintainya. Bersemangat jika ada dia, begitu juga sebaliknya.
4. Mengotori ikhwah yang lain. Lunturnya iman sama dengan lunturnya warna baju dalam cucian. Keindahan warnanya jika luntur akan berubah menjadi keburukan bagi yang lainnya. Demikian pula dengan virus ini, penyakit ini bisa menular terutama kepada junior-junior aktivis dakwah.
Solusi
1. Kuatkan kembali aqidah
Takut kehilangan orang yang dicintai oleh hati, takut tidak dapat jodoh, tergoda mencintai sesuatu selain Allah, dan hal lainnya sebagai gejala virus 3A ini sebenarnya adalah masalah aqidah.
Dengan mudah mereka mengatakan, “ aku sangat mencintainya, aku tidak mau kehilangan dia “. Sesungguhnya mereka tidak meyakini bahwa Allah lah pemilik hati, Sang pembolak-balik, termasuk Sang pemberi cinta dalam hati.
Dengan mudah mereka mengatakan, “ aku takut tidak mendapatkan jodoh yang aku cintai, aku harus segera mencarinya dengan terlebih dahulu melakukan pendekatan-pendekatan “, bahwasannya mereka tidak yakin bahwa umur, rejeki, ilmu dan jodoh itu ada di tangan Allah.
Maka solusi mendasar dari masalah ini adalah dengan membenahi aqidah, yaitu dengan memperbaiki proses tarbiyah, mengembalikan alur pembinaan kepada manhaj yang lurus tidak tergesa-gesa dan tentunya didukung oleh para murobby yang memiliki kapasitas sebagai da’I yang menyampaikan dengan hikmah, maudhatil hasanah, wa jadilhum bil lisan.
2. Solusi praktis
Setidaknya sudah ada 3 solusi yang telah diajarkan Rasulullah SAW,
a.Nikahkan
“Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia kawin, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu hendaknya berpuasa, sebab ia dapat mengendalikanmu.” (HR Muttafaq Alaihi ).
Dari Abu Hurairah ra , Rasulullah SAW bersabda : “ Ada tiga orang yang wajib bagi Allah menolongnya : orang yang berjihad di jalan Allah, budak ‘Mukatib’ yang ingin membayar pembebasannya, dan seorang yang ingin menikah untuk menjaga dirinya “ (HR Tirmidzi)
b. Jauhkan
Telah jelas pada hadits di atas jika apabila tidak mampu menikah maka berpuasa, karena ia bisa mengendalikan diri kita. Cukup jelas bahwa maksud dari berpuasa bukanlah hanya sekedar menaham makan dan minum tapi juga menahan diri kita untuk mendekati fitnah dan berbuat maksiat. Oleh karena itu selain puasa, supaya tidak terjadi fitnah, maka suspect perlu dipisahkan dari orang yang dicintainya. Dengan demikian akan terjaga hati dan sikapnya. Dijauhkan disini bukan berarti dilarang untuk jatuh cinta, bahkan boleh saja jika cinta itu terus dipupuk dengan berdoa kepada Allah agar berakhir bahagia. Sekali lagi, yang menjadi haram adalah ketika cinta itu berujung pada 2 hal yang telah dijelaskan di atas.
c. Nikahkan salahsatu dengan yang lain
Patahkan hatinya, ini akan menguji apakah cinta dia karena Allah atau karena syahwat. Untuk menghindari gossip juga.
Read More >>
Cuci SMS
Jika kata adalah sepotong hati, maka ilmu adalah cindera jiwa. Apa kita tidak ingin belajar dari ayahanda Ibrahim dan bunda Hajar tentang taqwa, sabar dan ikhlas dalam perjuangan. Teguhlah disaat yang lain rapuh. Bersabarlah karena setiap luka akan bermakna. Dan bergeraklah karena Allah, Rasul dan orang mukmin
Malam selalu merindukan pejuang-pejuang khalwat yang meneteskan air mata karena raja’, khauf, dan mahabbah. Jika Dia tebarkan cintanNya untuk setiap doa kita. Maka tiada pilihan selain berharap dan menangis. Qum!
Kemenangan itu adalah pilihan bukan keberuntungan/kebetulan semata. Kemenangan itu bukan (saja) hasil memuaskan tapi proses yang benar. Kemenangan adalah keniscayaan bagi kita
Rabb, alasan pergerakan kami adalah Engkau, alasan ukhuwah kami adalah ENgkau, alasan kami bersatu adalah Engkau.Maka peliharalah jama’ah ini dan keberkahan syura dengan kekuasaanMu
Kemenangan bukanlah banyaknya kursi yang diraih, bukan banayak suara yang diperoleh, tapi kemenangan sejati adalah kemenangan hati rakyat Indonesia (HNW)
Allah mensyukuri orang yang bersyukur pada-Nya dan orang yang beriman dalam hatinya, lalu Ia memberitahukan bahwa hamba itu akan mendapat pahala yang sangat banyak
Kunci kemualiaan adalah TAAT kepada Allah dan RasulNya. Kunci kemenangan dan keberuntungan adalah SABAR. Kunci keberhasilan adalah DO’A
Inti ilmu adalah kejelasannya dan buahnya keselamatan. Inti kebersihan diri adalah qana’ah dan buahnya adalah rasa lapang. Inti dari sabar adalah menahan diri dan buahnya adalah kemenangan. Inti amalan adalah kesesuaian dan buahnya adalah kesuksesan. Dan puncak kemuliaan segala sesuatu adalah kejujuran
Murid aristoteles; APa yang harus saya lakukan? saya tidak memiliki ketekunan untuk membaca. Dan tidak mempunyai kesabaran terhadap kelelahan dan kejenuhan belajar. Aristoteles; kalau demikian tidak ada jalan bagimu kelak, kecuali harus sabar menghadapi kesengsaraan dan kebodohan
Apabila seorang hamba selalu menyegerakan hak Allah atasnya, maka bagaimanalah Allah akan menunda memenuhi hak hamba itu
Jika anda ingin membiasakan sesuatu dalam hidup anda, maka latihlah dengan memaksakan sesuatu itu dalam diri anda secara rutin selama 30 hari
Amanah ibarat musuh, jangan dicari.Tapi jika ketemu jangan lari. Amanah ibarat kiriman orang tua, datang sebelum kita kehabisan. Amanah ibarat maut, datangnya tidak pernah menunggu kesiapan kita. Pun amanah sekecil titik-titik itu akan berhimpun menjadi garis-garis sketsa lukisan kemenangan
Biarlah Allah saja yang menyemangati kita. Sehingga tanpa sadar setiap peristiwa menjadi teguran atas kemalasan kita. Cukuplah Allah saja yang memelihara ketekunan kita, karena perhatian manusia terkadang menghanyutkan keikhlasan. Semoga Allah menjadikan kita pribadi yang bermakna, pribadi yang saat berbaur. Ia mampu menyemangati yang lain dan saat sendiri ia mampu menguatkan dirinya sendiri
Pada tiap mata laki-laki ada serigala. Pada setiap mata wanita terdapat sihir yang mampu membuat laki-laki menjadi serigala. Hai wanita jaga dirimu! Hai laki-laki jaga “serigala”mu
Kita tak sanggup selamanya terluka, tapi ingatlah setiap tetesan air mata itulah mahar kita menuju surga. Bia aditanya kenapa kesabaran itu pahit? Jawabannya karena surga itu manis.
Jika kita amencintai seseorang karena kebaikan dan prestasinya, itu bukan CINTA tapi KAGUM. Jika kita mencintai sesorang karena fisiknya, itu bukan CINTA tapi NAFSU,
Jika Kita mencintai seseorang karena dia pernah membantu kita, itu bukan CINTA tapi TERIMAKASIH
Jika kita mencintai sesorang karena Allah, itulah CINTA sesungguhnya
Senang dan sedih, berat atau ringan, indah atau buruk. Itu hanyalah sugesti relatif terhadap keluasan hati. Allah tidak akan memebani kita melebihi kemampuan kita, karena Ia lebih tahu dari diri kita
Kesuksesan adalah 90% kedisplinan, 10%bakat. Banyak beralasan adalah ciri kemalasan, banyak kata maaf adalah ciri kebodohan
Kebiasaan Rasulullah SAW ketika sedang jenuh dan lelah dalam berjuang adalah sholat 2 rakat(shalat sunah mutlak) atau tilawah
Selamatkanlah hatimu maka engkau akan menyelamatkan segalanya
Akar dari semua bentuk kesyirikan adalah cinta yang keliru. Sedangkan hakikat ibadah hamba kepada Allah tidak bisa diperoleh dalam kesyirikan cinta (Ibnu Qayyim)
Sesungguhnya mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah, mereka tidak akan mundur, dan perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggungjawabannya (QS.33:15)
Kepuasan terletak dalam upaya bukan dalam pencapaian. Upaya penuh merupakan kemenangan penuh (Mahatma Gandhi)
Tidak ada hati yang menderita mengejar impian, karena setiap detik pengejaran adalah detik pertemuan dengan Tuhan dan keabadian (Paulo Coelho)
Jika anda ingin menjadi orang yang luar biasa, tidak akan bisa jika anda hidup seperti orang biasanya hidup. Terbaik dalam berusaha akan membuat anda menjadi yang terbaik. Berbedalah, maka kau akan dikenal
Para wali Allah jika menempuh perjalanan yang sulit mereka justru optimis. sedangkan jika mereka melewati perjalanan yang mudah mereka malah khawatir (Wahb bin munabbih)
Kemenangan adalah keberhasilan menghadapi tantangan. Tantangan adalah cara pandang kita terhadap sebuah peluang. Peluang adalah pemanfaatan kesempatan. Menyia-nyiakan kesempatan adalah menyia-nyiakan kemenangan
Dia mengetahui pandangan mata yang berkhianat dan apa yang disembunyikan oleh hati (QS.Al-Mu’min 19). Adalah fitrah memliki kecenderungan terhadap lawan jenis, tapi mengelolanya agar tidak menimbulkan fitnah dan pelanggaran adalah bukti cinta pada Allah. Sungguh berdusta orang yang mengaku cinta pad allah tapi tidak mmperhatikan larangannya. Mari tengok hati, apakah kita berdusta?
*dari berbagai sender.. oleh-oleh ‘bebersih’ HP
Read More >>
Malam selalu merindukan pejuang-pejuang khalwat yang meneteskan air mata karena raja’, khauf, dan mahabbah. Jika Dia tebarkan cintanNya untuk setiap doa kita. Maka tiada pilihan selain berharap dan menangis. Qum!
Kemenangan itu adalah pilihan bukan keberuntungan/kebetulan semata. Kemenangan itu bukan (saja) hasil memuaskan tapi proses yang benar. Kemenangan adalah keniscayaan bagi kita
Rabb, alasan pergerakan kami adalah Engkau, alasan ukhuwah kami adalah ENgkau, alasan kami bersatu adalah Engkau.Maka peliharalah jama’ah ini dan keberkahan syura dengan kekuasaanMu
Kemenangan bukanlah banyaknya kursi yang diraih, bukan banayak suara yang diperoleh, tapi kemenangan sejati adalah kemenangan hati rakyat Indonesia (HNW)
Allah mensyukuri orang yang bersyukur pada-Nya dan orang yang beriman dalam hatinya, lalu Ia memberitahukan bahwa hamba itu akan mendapat pahala yang sangat banyak
Kunci kemualiaan adalah TAAT kepada Allah dan RasulNya. Kunci kemenangan dan keberuntungan adalah SABAR. Kunci keberhasilan adalah DO’A
Inti ilmu adalah kejelasannya dan buahnya keselamatan. Inti kebersihan diri adalah qana’ah dan buahnya adalah rasa lapang. Inti dari sabar adalah menahan diri dan buahnya adalah kemenangan. Inti amalan adalah kesesuaian dan buahnya adalah kesuksesan. Dan puncak kemuliaan segala sesuatu adalah kejujuran
Murid aristoteles; APa yang harus saya lakukan? saya tidak memiliki ketekunan untuk membaca. Dan tidak mempunyai kesabaran terhadap kelelahan dan kejenuhan belajar. Aristoteles; kalau demikian tidak ada jalan bagimu kelak, kecuali harus sabar menghadapi kesengsaraan dan kebodohan
Apabila seorang hamba selalu menyegerakan hak Allah atasnya, maka bagaimanalah Allah akan menunda memenuhi hak hamba itu
Jika anda ingin membiasakan sesuatu dalam hidup anda, maka latihlah dengan memaksakan sesuatu itu dalam diri anda secara rutin selama 30 hari
Amanah ibarat musuh, jangan dicari.Tapi jika ketemu jangan lari. Amanah ibarat kiriman orang tua, datang sebelum kita kehabisan. Amanah ibarat maut, datangnya tidak pernah menunggu kesiapan kita. Pun amanah sekecil titik-titik itu akan berhimpun menjadi garis-garis sketsa lukisan kemenangan
Biarlah Allah saja yang menyemangati kita. Sehingga tanpa sadar setiap peristiwa menjadi teguran atas kemalasan kita. Cukuplah Allah saja yang memelihara ketekunan kita, karena perhatian manusia terkadang menghanyutkan keikhlasan. Semoga Allah menjadikan kita pribadi yang bermakna, pribadi yang saat berbaur. Ia mampu menyemangati yang lain dan saat sendiri ia mampu menguatkan dirinya sendiri
Pada tiap mata laki-laki ada serigala. Pada setiap mata wanita terdapat sihir yang mampu membuat laki-laki menjadi serigala. Hai wanita jaga dirimu! Hai laki-laki jaga “serigala”mu
Kita tak sanggup selamanya terluka, tapi ingatlah setiap tetesan air mata itulah mahar kita menuju surga. Bia aditanya kenapa kesabaran itu pahit? Jawabannya karena surga itu manis.
Jika kita amencintai seseorang karena kebaikan dan prestasinya, itu bukan CINTA tapi KAGUM. Jika kita mencintai sesorang karena fisiknya, itu bukan CINTA tapi NAFSU,
Jika Kita mencintai seseorang karena dia pernah membantu kita, itu bukan CINTA tapi TERIMAKASIH
Jika kita mencintai sesorang karena Allah, itulah CINTA sesungguhnya
Senang dan sedih, berat atau ringan, indah atau buruk. Itu hanyalah sugesti relatif terhadap keluasan hati. Allah tidak akan memebani kita melebihi kemampuan kita, karena Ia lebih tahu dari diri kita
Kesuksesan adalah 90% kedisplinan, 10%bakat. Banyak beralasan adalah ciri kemalasan, banyak kata maaf adalah ciri kebodohan
Kebiasaan Rasulullah SAW ketika sedang jenuh dan lelah dalam berjuang adalah sholat 2 rakat(shalat sunah mutlak) atau tilawah
Selamatkanlah hatimu maka engkau akan menyelamatkan segalanya
Akar dari semua bentuk kesyirikan adalah cinta yang keliru. Sedangkan hakikat ibadah hamba kepada Allah tidak bisa diperoleh dalam kesyirikan cinta (Ibnu Qayyim)
Sesungguhnya mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah, mereka tidak akan mundur, dan perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggungjawabannya (QS.33:15)
Kepuasan terletak dalam upaya bukan dalam pencapaian. Upaya penuh merupakan kemenangan penuh (Mahatma Gandhi)
Tidak ada hati yang menderita mengejar impian, karena setiap detik pengejaran adalah detik pertemuan dengan Tuhan dan keabadian (Paulo Coelho)
Jika anda ingin menjadi orang yang luar biasa, tidak akan bisa jika anda hidup seperti orang biasanya hidup. Terbaik dalam berusaha akan membuat anda menjadi yang terbaik. Berbedalah, maka kau akan dikenal
Para wali Allah jika menempuh perjalanan yang sulit mereka justru optimis. sedangkan jika mereka melewati perjalanan yang mudah mereka malah khawatir (Wahb bin munabbih)
Kemenangan adalah keberhasilan menghadapi tantangan. Tantangan adalah cara pandang kita terhadap sebuah peluang. Peluang adalah pemanfaatan kesempatan. Menyia-nyiakan kesempatan adalah menyia-nyiakan kemenangan
Dia mengetahui pandangan mata yang berkhianat dan apa yang disembunyikan oleh hati (QS.Al-Mu’min 19). Adalah fitrah memliki kecenderungan terhadap lawan jenis, tapi mengelolanya agar tidak menimbulkan fitnah dan pelanggaran adalah bukti cinta pada Allah. Sungguh berdusta orang yang mengaku cinta pad allah tapi tidak mmperhatikan larangannya. Mari tengok hati, apakah kita berdusta?
*dari berbagai sender.. oleh-oleh ‘bebersih’ HP
Read More >>
Selera dan Perasaan
..tindakan dan perbuatannya tidak boleh bertentangan dengan aturan-auran yang telah ditetapkan oleh Islam. Sampai ke masalah syu’ur(perasaan) dan dzauq(selera) pun mesti disesuaikan dengan kehendak Allah SWT. (Menyonsong Mihwar Daulah, 141. Cahyadi Takariyawan)
Satu paragraf pada bagian Kejelasan Wala’(loyalitas) yang begitu membekas.
“Bahkan tentang PERASAAN dan SELERA pun mesti disesuaikan dengan kehendak Allah.”
Sebuah kalimat yang menghujam dan membuat merenung.
Ya, barangkali inilah yang membuat seorang Mus’ab bin Umeir.
seorang keturunan bangasawan yang amat perlente pada awalnya.
Lalu meninggalkan kemewahan hidupnya dan ikut berjuang bersama dengan Rasulullah.
Cukuplah cerita perjalanan hidupnya yang dibukukan saat ini mengajarkan betapa berubah ‘selera’ hidupnya kala itu.
Ketika kemewahan akan membuatnya menjadi terlena, maka ia pilih untuk tinggalkan itu..
Bukannya Dien ini memintanya untuk menjadi miskin. Tetapi ketika dunia menguasai hatinya, maka dimanakah Allah?
Itulah yang ia khawatirkan dan meninggalkannya.
Hingga kita dengan kisah ketika syahidnya di Perang Uhud.
Hanya.. Hanya ditutupi dengan selembar kain yang ketika ditarik ke atas maka terlihatlah ujung kakinya dan bila ditarik ke ujung kaki maka akan terlihatlah kepalanya.
Seseorang yang beberapa tahun sebelumnya sanggup membuat semua wanita menoleh dan memandang terpesona dengan ketampanan yang ia tampakkan..
Perasaan ini juga lah yang mengantarkan Umar bin Khattab tidak pernah merasa paling benar.
Bahkan ketika pendapatnya pada awalnya tidak diterima oleh Rasulullah kemudian dibenarkan langsung oleh Allah memalui firmannya.
Sampai akhirnya.. Allah sendiri yang meberikan jawaban bahwa pendapat Umarlah yang sebaiknya digunakan.
Bukan ditanggapi dengan ponggah apalagi sombong,
justru sikap Umar kala itu..
Malah menangis sedih dan mengatakan,
“Siapalah Umar ini..”
berulang kali..
Mari tanyakan dalam diri..
Apakah masih seringkali selera dan perasaan menjadi penghambat lajunya pergerakan kita..
(Lagi-lagi tulisan pengingat untukku yang dibagi agar bisa bermanfaat untuk kita..)
Read More >>
Satu paragraf pada bagian Kejelasan Wala’(loyalitas) yang begitu membekas.
“Bahkan tentang PERASAAN dan SELERA pun mesti disesuaikan dengan kehendak Allah.”
Sebuah kalimat yang menghujam dan membuat merenung.
Ya, barangkali inilah yang membuat seorang Mus’ab bin Umeir.
seorang keturunan bangasawan yang amat perlente pada awalnya.
Lalu meninggalkan kemewahan hidupnya dan ikut berjuang bersama dengan Rasulullah.
Cukuplah cerita perjalanan hidupnya yang dibukukan saat ini mengajarkan betapa berubah ‘selera’ hidupnya kala itu.
Ketika kemewahan akan membuatnya menjadi terlena, maka ia pilih untuk tinggalkan itu..
Bukannya Dien ini memintanya untuk menjadi miskin. Tetapi ketika dunia menguasai hatinya, maka dimanakah Allah?
Itulah yang ia khawatirkan dan meninggalkannya.
Hingga kita dengan kisah ketika syahidnya di Perang Uhud.
Hanya.. Hanya ditutupi dengan selembar kain yang ketika ditarik ke atas maka terlihatlah ujung kakinya dan bila ditarik ke ujung kaki maka akan terlihatlah kepalanya.
Seseorang yang beberapa tahun sebelumnya sanggup membuat semua wanita menoleh dan memandang terpesona dengan ketampanan yang ia tampakkan..
Perasaan ini juga lah yang mengantarkan Umar bin Khattab tidak pernah merasa paling benar.
Bahkan ketika pendapatnya pada awalnya tidak diterima oleh Rasulullah kemudian dibenarkan langsung oleh Allah memalui firmannya.
Sampai akhirnya.. Allah sendiri yang meberikan jawaban bahwa pendapat Umarlah yang sebaiknya digunakan.
Bukan ditanggapi dengan ponggah apalagi sombong,
justru sikap Umar kala itu..
Malah menangis sedih dan mengatakan,
“Siapalah Umar ini..”
berulang kali..
Mari tanyakan dalam diri..
Apakah masih seringkali selera dan perasaan menjadi penghambat lajunya pergerakan kita..
(Lagi-lagi tulisan pengingat untukku yang dibagi agar bisa bermanfaat untuk kita..)
Read More >>
Yang Hilang…
Wahai jiwa..
betapa mudahnya engkau terbolak balik
hanya karena beberapa kata atau tindak yg mungkin tak
disengaja
——————————————————————————————————————————————–
M. Lili Nur Aulia
(Allah, Kokohkan Kaki Kami di Atas Jalan-Mu)
“Kata-kata itu, bisa mati,” tulis Sayyid Qutbh
“Kata-kata juga akan menjadi beku, meskipun ditulis
dengan lirik yang indah atau semangat.
Kata-kata akan menjadi seperti itu bila tidak muncul
dari hati orang yang kuat meyakini apa yang
dikatakannya. Dan seseorang mustahil memiliki
keyakinan kuat terhadap apa yang dikatakannyanya
kecuali jika ia menerjemahkan apa yang ia katakan
dalam dirinya sendirinya, lalu menjadi visualisasi
nyata apa yang ia katakan.” Lanjut Sayyid Qutbh dalam
karya monumental Fii Zilaalil Qur’an
Saudaraku,
menjadi penerjemah apa yang dikatakan,
menjadi bukti nyata apa yang diucapkan.
Betapa sulitnya.
Tapi ini bukan sekadar anjuran.
Bukan hanya agar suatu ucapan menjadi berbobot
pengaruhnya karena tanpa dipraktikkan, kata-kata
menjadi kering, lemah, ringan, tak berbobot, seperti
yang disinyalir oleh Sayyid Qutbh tadi.
Lebih dari itu semua, merupakan perintah Alla SWT.
Firman Allah swt yang tegas menyindir soal ini ada
pada surat Al Baqarah ayat 44 yang artinya,
“Apakah kalian memerintahkan manusia untuk melakukan
kebaikan sedangkan kalian melupakan diri kalian
sendiri dan kalian membaca Al Kitab. Apakah kalian
tidak berakal?”
Membandingkan antara kita hari ini dan masa-masa lalu,
akan terasa bahwa ada banyak hal yang hilang dari diri
kita.
Kita dahulu, yang mungkin baru memiliki ilmu dan
pemahaman yang sedikit, tetapi banyak beramal dan
mempraktikkan ilmu yang sedikit itu.
Kita dahulu, yang barangkalai belum banyak membaca dan
mendapatkan keterangan tentang Allah, Rasulullah SAW,
tentang Islam, tapi begitu kuat keyakinan dan banyak
amal shalih yang dikerjakan.
Kita dahulu belum banyak mendengarkan nasihat,
diskusi, arahan para guru dalam menhjalankan agama,
tapi seperti merasakan kedamaian karena kita melakukan
apa yang kita ketahui itu.
Meskipun sedikit.
Saudaraku,
banyak yang hilang dari diri kita..
Dahulu, sahabat Ali radiallahu anhu pernah mengatakan
bahwa kelak di akhir zaman akan terjadi sebuah fitnah.
Antara lain, ia menyebutkan, “….Ketika sesorang
mempelajari ilmu agama bukan untuk diamalkan.” itulah
ciri fitnah besar yang terjadi di akhir zaman. Sahabat
lainnya, Ibnu Mas’ud juga pernah menyingggung hal ini
dalam perkataannya, “Belajarlah kalian, dan bila
kalian sudah mendapatkan ilmunya, maka laksanakanlah
ilmu itu. “Ilmu dan amal, dua pasang mata uang yang
tak mungkin dipisahkan. Tapi kita, sepertinya, kini
lebih bisa berilmu namun miskin dalam amal…
Saudaraku,
Berhentilah sejenak disini
Duduk dan merenunglah utnuk memikirkan apa yang kita
bicarakan ini. Perhatikanlah apa yang dikatakan lebih
lanjut oleh Sayyid Qutbh, “Sesungguhnya iman yang
benar adalah ketika ia kokoh dalam hati dan terlihat
bekasnya dalam perilaku. Islam adalah akidah yang
bergerak dinamis dan tidak membawa yang negatif.
akidah islam itu ada dalam alam perasaan dan bergerak
hidup mewujudkan indikasinya dalam sikap luar,
teterjemah dalam gerak di alam realitas.
Saudaraku,
Jika banyak yang baik-baik, yang hilang dari diri
kita, mari memuhasabahi diri sebelum beramal, melihat
apa yang menjadi orientasi dan tujuan amal-amal kita
selama ini.
Imam Ghazali mengatakn, “Jalan untuk membersihkan jiwa
adalah dengan membiasakan pekerjaan yang muncul dari
jiwa yang bersih dan sempurna.”
Saudaraku,
Mungkin banyak hal baik yang telah hilang dari diri kita..
—————————————————————————————————————————————-
awal sedikit sedikit
lama lama mengapa jadi menipis
akhirnya malah habis
Dahulu tiga juz
tereduksi menjadi
dua juz, satu juz, setengah juz
akhirnya hanya ingat jus..
jus alpukat..jus melon.. jus sirsak..
Dahulu shaum Daud..
mengendur menjadi shaum senin kamis..
lalu mulai lupa ayyamul bidh..
tinggallah tak makan hanya pukul 9 malam hingga pukul 5 esok paginya..
Dahulu tahajud full version..
lalu tak sempat dan yang penting paginya harus Shalat Duha..
tak sempat juga? yang penting rawatib bisa terjaga
lalu kuliah
lalu praktikum
lalu capek
lalu
lalu
akhirnya usahakan saja agar sholat “tepat pada waktunya”
Dahulu jilbab ini menutup lebar seluruh tubuh
perlahan naik hingga ke siku..
lalu tak apalah cuman sampai bahu, yang penting tetap dengan kata-kata pamungkas “yang penting masih syar’i”
perlahan kenapa tak sekalian saja dibuat melilit agar lebih menarik?
Dahulu rok menjadi pakaian wajib
singkuh rasanya jika sempit membekap tubuh
perlahan berubah model agar lebih gaya
kenapa tak sekalian menggunakan celana panjang agar lebih bebas kemana-mana??
Dahulu murottal mengalun menemani setiap saat sembari berusaha menjaga hafalan
ditemani penyemangat berupa nasyid-nasyid bersyair haraki
lalu semakin banyak nasyid bersyair mendayu
akhirnya lagu-lagu populer terbaru menjadi playlist nomor satu
Dahulu enggan menghabiskan waktu sia-sia
lalu mulai tergoda untuk cinta bola
buat akhwatnya makin doyan saja sama dorama
dahulu mubah dihidari sekarang mubah senantiasa
Dahulu paling anti komunikasi tidak penting antar jender
lalu mulai memberi ruang dengan alasan tukar informasi
bergulir menjadi hubungan antara dua hati
pada akhirnya saling berkomitmen hanya dengan modal janji
keimanan ini sangat mudah untuk bisa menjadi tipis,
dengan diri yang selalu mendapati hal baru setiap harinya
mendapatkan informasi ini itu
berita disana sini
membuat jurang toleransi pada diri kadang semakin lebar
“Tak ada salahnya aku begini, kan mereka juga seperti itu”
Amalan-amalan itu semakin terkikis dengan rendah komitmen untuk tegas pada diri sendiri
tak apa melakukan yang mubah tetapi jangan kalah dengan yang mubah..
Teringat kisah para salafus salih, bahkan hanya ‘berani’ bermain aman’ di ranah halal dan sunah.. tak ‘berani’ menjejaki yang mubah
karena khawatir terbiasa dengan yang mubah dan bisa terseret ke satu tingkat di bawahnya. Read More >>
betapa mudahnya engkau terbolak balik
hanya karena beberapa kata atau tindak yg mungkin tak
disengaja
——————————————————————————————————————————————–
M. Lili Nur Aulia
(Allah, Kokohkan Kaki Kami di Atas Jalan-Mu)
“Kata-kata itu, bisa mati,” tulis Sayyid Qutbh
“Kata-kata juga akan menjadi beku, meskipun ditulis
dengan lirik yang indah atau semangat.
Kata-kata akan menjadi seperti itu bila tidak muncul
dari hati orang yang kuat meyakini apa yang
dikatakannya. Dan seseorang mustahil memiliki
keyakinan kuat terhadap apa yang dikatakannyanya
kecuali jika ia menerjemahkan apa yang ia katakan
dalam dirinya sendirinya, lalu menjadi visualisasi
nyata apa yang ia katakan.” Lanjut Sayyid Qutbh dalam
karya monumental Fii Zilaalil Qur’an
Saudaraku,
menjadi penerjemah apa yang dikatakan,
menjadi bukti nyata apa yang diucapkan.
Betapa sulitnya.
Tapi ini bukan sekadar anjuran.
Bukan hanya agar suatu ucapan menjadi berbobot
pengaruhnya karena tanpa dipraktikkan, kata-kata
menjadi kering, lemah, ringan, tak berbobot, seperti
yang disinyalir oleh Sayyid Qutbh tadi.
Lebih dari itu semua, merupakan perintah Alla SWT.
Firman Allah swt yang tegas menyindir soal ini ada
pada surat Al Baqarah ayat 44 yang artinya,
“Apakah kalian memerintahkan manusia untuk melakukan
kebaikan sedangkan kalian melupakan diri kalian
sendiri dan kalian membaca Al Kitab. Apakah kalian
tidak berakal?”
Membandingkan antara kita hari ini dan masa-masa lalu,
akan terasa bahwa ada banyak hal yang hilang dari diri
kita.
Kita dahulu, yang mungkin baru memiliki ilmu dan
pemahaman yang sedikit, tetapi banyak beramal dan
mempraktikkan ilmu yang sedikit itu.
Kita dahulu, yang barangkalai belum banyak membaca dan
mendapatkan keterangan tentang Allah, Rasulullah SAW,
tentang Islam, tapi begitu kuat keyakinan dan banyak
amal shalih yang dikerjakan.
Kita dahulu belum banyak mendengarkan nasihat,
diskusi, arahan para guru dalam menhjalankan agama,
tapi seperti merasakan kedamaian karena kita melakukan
apa yang kita ketahui itu.
Meskipun sedikit.
Saudaraku,
banyak yang hilang dari diri kita..
Dahulu, sahabat Ali radiallahu anhu pernah mengatakan
bahwa kelak di akhir zaman akan terjadi sebuah fitnah.
Antara lain, ia menyebutkan, “….Ketika sesorang
mempelajari ilmu agama bukan untuk diamalkan.” itulah
ciri fitnah besar yang terjadi di akhir zaman. Sahabat
lainnya, Ibnu Mas’ud juga pernah menyingggung hal ini
dalam perkataannya, “Belajarlah kalian, dan bila
kalian sudah mendapatkan ilmunya, maka laksanakanlah
ilmu itu. “Ilmu dan amal, dua pasang mata uang yang
tak mungkin dipisahkan. Tapi kita, sepertinya, kini
lebih bisa berilmu namun miskin dalam amal…
Saudaraku,
Berhentilah sejenak disini
Duduk dan merenunglah utnuk memikirkan apa yang kita
bicarakan ini. Perhatikanlah apa yang dikatakan lebih
lanjut oleh Sayyid Qutbh, “Sesungguhnya iman yang
benar adalah ketika ia kokoh dalam hati dan terlihat
bekasnya dalam perilaku. Islam adalah akidah yang
bergerak dinamis dan tidak membawa yang negatif.
akidah islam itu ada dalam alam perasaan dan bergerak
hidup mewujudkan indikasinya dalam sikap luar,
teterjemah dalam gerak di alam realitas.
Saudaraku,
Jika banyak yang baik-baik, yang hilang dari diri
kita, mari memuhasabahi diri sebelum beramal, melihat
apa yang menjadi orientasi dan tujuan amal-amal kita
selama ini.
Imam Ghazali mengatakn, “Jalan untuk membersihkan jiwa
adalah dengan membiasakan pekerjaan yang muncul dari
jiwa yang bersih dan sempurna.”
Saudaraku,
Mungkin banyak hal baik yang telah hilang dari diri kita..
—————————————————————————————————————————————-
awal sedikit sedikit
lama lama mengapa jadi menipis
akhirnya malah habis
Dahulu tiga juz
tereduksi menjadi
dua juz, satu juz, setengah juz
akhirnya hanya ingat jus..
jus alpukat..jus melon.. jus sirsak..
Dahulu shaum Daud..
mengendur menjadi shaum senin kamis..
lalu mulai lupa ayyamul bidh..
tinggallah tak makan hanya pukul 9 malam hingga pukul 5 esok paginya..
Dahulu tahajud full version..
lalu tak sempat dan yang penting paginya harus Shalat Duha..
tak sempat juga? yang penting rawatib bisa terjaga
lalu kuliah
lalu praktikum
lalu capek
lalu
lalu
akhirnya usahakan saja agar sholat “tepat pada waktunya”
Dahulu jilbab ini menutup lebar seluruh tubuh
perlahan naik hingga ke siku..
lalu tak apalah cuman sampai bahu, yang penting tetap dengan kata-kata pamungkas “yang penting masih syar’i”
perlahan kenapa tak sekalian saja dibuat melilit agar lebih menarik?
Dahulu rok menjadi pakaian wajib
singkuh rasanya jika sempit membekap tubuh
perlahan berubah model agar lebih gaya
kenapa tak sekalian menggunakan celana panjang agar lebih bebas kemana-mana??
Dahulu murottal mengalun menemani setiap saat sembari berusaha menjaga hafalan
ditemani penyemangat berupa nasyid-nasyid bersyair haraki
lalu semakin banyak nasyid bersyair mendayu
akhirnya lagu-lagu populer terbaru menjadi playlist nomor satu
Dahulu enggan menghabiskan waktu sia-sia
lalu mulai tergoda untuk cinta bola
buat akhwatnya makin doyan saja sama dorama
dahulu mubah dihidari sekarang mubah senantiasa
Dahulu paling anti komunikasi tidak penting antar jender
lalu mulai memberi ruang dengan alasan tukar informasi
bergulir menjadi hubungan antara dua hati
pada akhirnya saling berkomitmen hanya dengan modal janji
keimanan ini sangat mudah untuk bisa menjadi tipis,
dengan diri yang selalu mendapati hal baru setiap harinya
mendapatkan informasi ini itu
berita disana sini
membuat jurang toleransi pada diri kadang semakin lebar
“Tak ada salahnya aku begini, kan mereka juga seperti itu”
Amalan-amalan itu semakin terkikis dengan rendah komitmen untuk tegas pada diri sendiri
tak apa melakukan yang mubah tetapi jangan kalah dengan yang mubah..
Teringat kisah para salafus salih, bahkan hanya ‘berani’ bermain aman’ di ranah halal dan sunah.. tak ‘berani’ menjejaki yang mubah
karena khawatir terbiasa dengan yang mubah dan bisa terseret ke satu tingkat di bawahnya. Read More >>
Langganan:
Postingan (Atom)